TAJUK: Empat PR Besar Untuk Kapolri Baru

***
TAJUK: Empat PR Besar Untuk Kapolri Baru

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menerima surat presiden (surpres) terkait pencalonan Komisaris Jendral Idham AzizIdham untuk menjabat sebagai Kapolri. Selanjutnya waki, rakyat melakukan uji kelayakan terhadap Idham.

Banyak kalangan berharap Kapolri baru nanti professional dan jujur. Juga mampu menyelesaikan berbagai persoalan di negeri ini dengan baik dan adil.
Anggota Fraksi PDIP DPR, Herman Herry menyatakan bahwa Komisaris Jendral Idham Aziz memiliki empat pekerjaan besar apabila nanti sudah resmi dilantik sebagai Kapolri.

Empat tugas besar itu adalah menjaga keamanan negara untuk mencegah intoleransi, menangkal radikalisme, hoaks dan menanggulangi tindak terorisme. Menurutnya, hal utama yang harus dikerjakan oleh Polri di era sekarang adalah keamanan negara dalam hal intoleransi, radikalisme, hoaks, sampai dengan terorisme.
Idham akan diplot menggantikan Jenderal Tito Karnavian usai diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. Mantan Kapolda Metro Jaya itu saat ini masih menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

Berbagai harapan dialamatkan ke pundak Kapolri baru, antara lain harus terus mereformasi kepolisian serta menjadi pilar penting penegakan hukum yang transformatif.Diharapkan mampu menangkap aspirasi dan harapan positif dari rakyat.

Harapan lain, dalam mereformasi Polri, publik meminta Kapolri untuk bekerja dengan tulus, penuh pengabdian, rendah hati tetapi tegas dan berintegritas. Jika ini dilakukan, tentu akan mendapat dukungan publik juga dukungan dari internal kepolisian. Sebaliknya, jika Kapolri baru mengecewakan publik tentu citra Polri akan terpuruk.

Tugas penting lain yang harus dikerjakan Kapolri mendatang adalah, menjaga persatuan, soliditas dan kekompakan internal Polri. Lalu  melanjutkan reformasi Polri secara menyeluruh dan konsisten. Dengan demikianakan lahir institusi Polri yang profesional, solid, dan humanis.
Sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain membberantas aksi terorisme, menyelesaikan masalah kriminalitas karena diprediksi tingkat perekonomian Indonesia tidak lebih baik dari sebelumnya. 

Memburuknya kondisi ekonomi Indonesia tentu mendorong tingginya angka kriminalitas. Bahkan tingkat keamanan semakin terganggu. Ini menjadi tantangan berat Kapolri baru.

Tugas sangat penting yang sebaiknya segera digarap Jenderal Tito adalah menertibkan polisi-polisi nakal, yang masih mempermainkan kasus/perkara, menerima suap atau pungli saat warga mengurus surat izin  mengemudi (SIM), oknum polisi yang menerima pungli di jalan raya, dan menyelesaikan sikap anggota polisi yang arogan.

Harapan kita anggota kepolisian mampu bekerja keras, profesional, dan berjiwa pemimpin. engan demikian anggota Polri mampu untuk menjalankan prinsip mengayomi dan melayani masyarakat. Jangan sampai anggota Polri minta dilayani.

Tentu dalam pemberantasan korupsi, Polri juga harus berperan aktif, karenanya Kapolri Tito harus bersinergi dengan institusi KPK, kejaksaan, dan pengadilan untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi maupun skandal rekening gendut oknum Polri.

Siapapun yang terpilih menjadi Kapolri berikutnya, tak terlalu penting bagi rakyat. Rakyat hanya mengharapkan, Kapolri baru harus menjadi pelindung dan pengayom rakyat. Jika ini dilakukan maka, Kapolri baru nantinya akan mampu mengembalikan kepercayaan publik kepada institusi Kepolisian. 

Tentu saja sosok Kapolri ke depan yang diharapkan rakyat adalah harus berani berdiri untuk kepentingan keadilan dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dalam penegakan hukum.Juga harus tidak tergoda dengan tarikan kekuasaan. Intinya, Kapolri nanti harus ‘menghamba’ kepada rakyat, bukan kepada kekuasaan.

Kita sependapat dengan pendapat mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif  bahwakedudukan Kapolri harus diisi oleh calon yang terbebas dari pengaruh partai politik. Juga harus semakin mampu merealisasikan fungsi sebagai pelayan masyarakat, tanpa dipengaruhi urusan politik. 

Selain menegakkan hukum, tugas Kapolri baru nanti yang sangat penting adalah mengubah pola pikir dan pola budaya serta memberikan keteladanan dalam segala hal kepada bawahan. 

Tak hanya itu, kapolri baru juga harus bisa merubah sikap dan moralitas anggota Polri dari yang suka menerima suap, menjadi antisuap. Dari yang doyan korupsi menjadi menolak korupsi. Dari salah tangkap menjadi tidak salah tangkap.  Dari yang mempersulit masalah menjadi mempermudah masalah-masalah yang dihadapi rakyat.

Kita mengharapkan Kapolri baru mampu menciptakan terbentuknya postur Polri yang lebih dominan sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Selain itu mampu meningkatkan pelayanan yang lebih prima kepada public.