Diisukan Jadi Menhan Kabinet Jilid II, Prabowo Lebih Tepat Jadi Menkopolhukam atau Menteri Utama 

Sammy/Safari
Diisukan Jadi Menhan Kabinet Jilid II, Prabowo Lebih Tepat Jadi Menkopolhukam atau Menteri Utama 
Prabowo Subianto (ist)

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto diisukan menjadi Menteri Pertahanan kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Para pengamat menyatakan, Prabowo Prabowo lebih tepat menjadi Menkopolhukam atau Menteri Utama.

Soal Prabowo jadi menteri, juru bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak hanya mengatakan, "Kalau bahasanya Pak Prabowo itu, bila negara memanggil, tidak ada alasan (menolak, red). Karena Pak Prabowo itu patriotisme itu penting, jadi untuk kepentingan bangsa dan Negara." 

Jika Prabowo masuk kabinet berarti partai ini akan menjabat jatah tiga menteri pada kabinet jilid II. Sebelumnya, sejumlah kalangan menyebut dua kader Gerindra Edhy Prabowo dan Fadli Zon bakal masuk cabinet.

Lantas sebagai menteri apa yang pas untuk Prabowo? “Prabowo cocok menjadi Menkopolhukam. Namun sepertinya Prabowo tidak akan ditempatkan sebagai Menkopolhukam. Prabowo sepertinya akan ditempatkan sebagai Menhan. Jika pun Jokowi akan melakukan perubahan nomenklatur maka Prabowo bisa menjadi menteri utama,” kata Direktur Eksekutif Political Review Indonesia, Ujang Komarudin kepada Harian Terbit, Kamis (17/10/2019).

Meski demikian, lanjut Ujang, seperti Prabowo tidak akan ditempatkan sebagai Menkopolhukam, tapi sebagai Menhan. Jika pun Jokowi akan melakukan perubahan nomenklatur maka Prabowo bisa menjadi menteri utama. "Prabowo cocok jadi Menhan karena passion-nya. Jadi (Menhan) cocok buat dirinya," paparnya.

Lebih Pas

Sementara itu politikus Partai Gerindra Sandiaga Uno mengemukakan, Prabowo Subianto tepat jadi menteri. "Pak Prabowo Prabowo paling pantas saya rasa," kata Sandi seraya membantah jika dirinya menjadi menteri.

Lalu, lanjut Sandi, kader Gerindra layak menjadi menteri adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo. "Dan ada kader Gerindra lain Edhy Prabowo yang lebih senior."

Sandi mengatakan Prabowo selama ini tak pernah menyorong-nyorongkan nama menteri kepada Jokowi. Dia menuturkan Gerindra tak berkompetisi untuk mendapatkan posisi, melainkan gagasan. Nama Edhy Prabowo belakangan kerap disebut-sebut menjadi calon menteri di kabinet Jokowi. Mantan ajudan Prabowo itu disebut-sebut menjadi kandidat Menteri Pertanian.

KSP Dukung 

Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mendukung bila a Prabowo Subianto terpilih sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin.

Ali sendiri mengaku mengetahui isu Prabowo ditawari jabatan sebagai Menhan dari media.

"Kalaulah benar seperti yang ditulis (media) terkait kemungkinan beliau menjadi Menhan, saya ucap alhamdulillahi robbil alamin. Karena (Prabowo) punya latar belakang militer yang luar biasa yang akan memberikan kontribusi terhadap sistem pertahanan negara," kata Ali di sela-sela acara FGD Divisi Humas Polri bertajuk Milenial Dalam Pusaran Hoax dan Masa Depan Bangsa di Jakarta, Rabu.

Pihaknya menyambut baik dengan pernyataan Prabowo soal kesediaan Prabowo dan Partai Gerindra untuk merapat ke pemerintahan bila pemerintah memerlukan mereka.

"Bahwa beliau dan Gerindra mempersiapkan diri kalau diperlukan pemerintah. Itu isyarat kalau nanti tidak bergabung dengan pemerintah, paling tidak, dalam posisi penyeimbang, di luar pemerintah, atau posisi oposisi itu adalah hal yang mulia karena orientasinya membangun kepentingan bangsa dan negara," katanya.

Bintang Empat

Lebih lanjut Ujang Komarudin mengatakan, bagi Prabowo bukan soal turun kasta atau tidak ketika menyatakan siap masuk kabinet untuk berkoalisi dengan Jokowi. Namun dengan masuknya Prabowo berkoalisi dengan pemerintah maka Prabowo akan menjadi jenderal bintang empat. Seperti yang pernah dialami SBY, Agum Gumelar, Luhut, dan lainnya. Karena saat ini Prabowo baru meraih bintang tiga yakni Letnan Jenderal (Letjen). 

"Jika Prabowo jadi menteri, dia (Prabowo) akan jadi jenderal penuh, akan mendapatkan bintang 4. Seperti pernah dialami SBY, Agum Gumelar, Luhut, dan lainnya. Saat ini kan dia (Prabowo) Letjen (bintang 3). Jadi jika jadi menteri dia bisa jadi jenderal penuh," paparnya.

Ujang menyayangkan jika Prabowo masuk koalisi Jokowi. Apalagi jika tujuan Jokowi merangkul Prabowo karena untuk memperkuat koalisi pemerintah dan untuk melemahkan oposisi. Padahal pada hakekatnya posisi oposisi sangat penting agar pemerintahan bisa balance atau imbang. Oleh karena itu oposisi harus ada dan harus kuat. Apalagi jika Gerindra, Demokrat, dan PAN masuk koalisi Jokowi.

"Jadi oposisi rontok, karena hanya menyisakan PKS. Karena bangsa ini butuh pemerintahan yang kuat. Namun disaat yang sama juga butuh oposisi yang tangguh dan kuat. Agar terjadi checks and balances. Jika hanya PKS yang jadi oposisi maka tak akan terjadi checks and balances," paparnya.