Mahasiswa UI Lebih Memilih Jalur Judicial Review UU KPK

Danial
Mahasiswa UI Lebih Memilih Jalur Judicial Review UU KPK
Mahkamah Konstitusi

Jakarta, HanTer - Mahasiwa Universitas Indonesia (UI) dan dari beberapa perguruan tinggi lainnya mendukung langkah kebijakan konstitusional, yakni menempuh jalur Judicial Review Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), ketimbang demonstrasi tanpa mendalami secara ilmiah tentang kajian yang mereka permasalahkan.

Hal ini disampaikan Zico Leonard Djagardo S, mahasiswa Fakultas Hukum UI, dalam forum diskusi kebangsaan yang diadakan oleh Barasastra dengan mengangkat tema: ‘Langkah Tepat untuk Menciptakan Suasana Bangsa dan Negara yang Harmonis’.

“Mahasiswa itu sebenarnya penjaga demokrasi tapi pertanyaannya? Demokrasi apa yang harus dijaga? Begitu juga dengan Ketua BEM UI dan BEM UGM tidak ikut judicial review UU KPK ke MK," ujar Zico kepada wartawan saat ditemui usai gelar dialog di UI, Depok, Kamis (17/10/2019).

Zico yang juga pernah menjadi Kuasa Mahasiswa saat menggugat Revisi UU KPK ini menerangkan, aksi kawan-kawannya yang turun ke jalan, ada juga yang tidak mengerti apa yang sedang dipermasalahkan. Bahkan bisa dianulir karena hanya sebatas ikut-ikutan saja atau bisa jadi kemungkinan ada pihak yang menyuruh yang layak juga untuk dicurigai.

"Terkadang ada juga orang dia tidak tahu apa yang di permasalahkan atau dia hanya ikut-ikut saja,” bebernya.

Lanjutnya, persepsi kawan-kawan mahasiswa lainnya mengklaim bahwa, mengenai letak salah atau benar itu bukan dari gerakan (mahasiswa seluruhnya). Ada salah atau benar itu bisa diukur juga dari niatnya.

“saat itu ada beberapa orang yang menghubungi saya juga, dan bilang kita aksi ke jalan untuk mendesak Jokowi, dalam hal ini,” ujarnya.

Kendati Zico telah menyimpulkan bahwa di BEM UI masih banyak pihak yang baik, namun disayangkan, hanya saja terkait aksi yang baru-baru ini terjadi, dilakukan dengan tidak ada penelitian kajian yang lebih ilmiah dan mendalam.

“Saya mendukung gerakannya, tapi saya kecewa dengan eksekusinya, sebab tidak dengan persiapan yang matang,” katanya.

Zico menyebutkan ada rasa kecewa yang mendalam dengan tindakan oleh Ketua BEM UI seperti Manik, dan kecewa dengan ketua pemerintahan UGM begitu pun dengan ketua kampus ITB.

“Saya kecewa dengan orang-orang yang waktu itu dihadapkan dengan pak Yasonna Laoly (Menhunkam), karena pada saat itu mereka sudah tersedia waktu yang banyak, sumber daya yang baik untuk menunjukkan kualitas gerakan itu. Sebab untuk menunjukkan apa yang mereka perkarakan itu (tanpa penelitian mendalam) memicu rasa kecewa, karena tindakan mereka mengeksekusi tidak melakukan pendalaman, penelitian. Mereka juga tidak mempelajarinya, mereka tidak menyampaikannya dengan kualitas mahasiswa yang sudah mengerti masalah itu,” paparnya.