Artis Konsumsi Narkoba Karena Beban Kerja dan Stres

Safari
Artis Konsumsi Narkoba Karena Beban Kerja dan Stres
Nunung Srimulat dan Jefri Nichol, dua artis tertangkap narkoba

Jakarta, HanTer-- Mungkin 2019 adalah tahun yang sangat mengejutkan bagi dunia hiburan di Tanah Air. Sejak awal 2019, polisi telah menetapkan puluhan artis Indonesia terkait dengan kasus penyalahgunaan narkoba, seperti Yanto Sari, Reva Alexa, dan Jupiter Fortissimo.

Kemudian komedian Tri Retno Prayudati atau Nunung Srimulat dan aktor Jefri Nichol karena terjerat barang haram tersebut. Kemudian penyanyi dangdut D'Academy Musim 2, Septyan Arochman alias Daffa (27), artis Rifat Umar, dan lainnya.

Menurut pengamat sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati, adanya kalangan figur publik seperti artis menggunakan narkoba adalah sebagai bentuk tingkat kompetisi yang tinggi, baik itu secara ekonomi maupun simbolik, sehingga membuat mereka stres.

“Dalam studi global (kompetisi ekonomi dan simbolik) menimbulkan stres sehingga menimbulkan seseorang untuk memiliki kehidupan yang sama nikmatnya seperti yang selama ini mereka bayangkan,” kata Devie.Jefri Nichol saat berada di Polres Jakarta Selatan, Rabu (24-7-2019). (Foto: PricaTriferna)

Sementara itu, pengamat sosial Universitas Nasional Nia Elvina yang menyatakan bahwa konsisten juga menjadi kunci utama bagi para pecandu narkoba. Mereka harus yakin dan konsisten dalam bersikap positif agar bisa mengembalikan kepercayaan dari masyarakat.

“Mengembalikan kepercayaan yang pudar itu butuh waktu panjang. Mereka bisa melakukan berbagai hal kebaikan meskipun itu kecil. Konsisten untuk bebas dari jerat narkoba itu wajib,” kata Nia.

Terpisah, Antropolog dari Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiady mengatakan, ada dua hal yang membuat banyak artis yang terjerat atau bisa memakai narkoba. Pertama, karena ia mencari dan membutuhkan narkoba. Artis mencari atau membutuhkan narkoba juga karena dua  alasan, yakni memang sudah terjerat narkoba (bahkan sebelum menjadi artis atau sebelum tenar); dan coba-coba sehingga keterusan yang akhirnya nyandu atau ketagihan.

Kedua, kata Yophie kepada Harian Terbit, Jumat (11/10/2019), karena ia ditawari untuk menggunakan narkoba. Untuk artis yang ditawari narkoba, karena pengedar melihat dan mempelajari kondisi artis tersebut. Melihat dalam pengertian si artis sebagai calon potensial konsumen narkoba dari sisi keuangan. Mempelajari dalam pengertian: kondisi kerja, jadwal ketat, tingkat tekanan kerja, persaingan antar artis, dan sebagainya yang dinilai dapat masuk sebagai doktrin obat bagi permasalahan si artis.

Pengamat Kebijakan Narkotika, Yohan Misero mengatakan, pada dasarnya seorang figur publik dan narkotika tidak ada yang terlalu spesial. Karena semua orang bisa saja menggunakan narkotika. Termasuk juga politisi dan seniman. Hanya saja seorang figur publik memiliki kerentanan dari sisi mental karena lingkar pertemanannya yang berubah serta dari sisi kekuatan finansial yang meningkat.

Yohan menyebut, pendekatan kesehatan dibanding hukum pidana bisa menjadi solusi. Oleh karena itu pendekatan kesehatan harus dikedepankan karena adiksi atau ketergantungan adalah penyakit. Contohnya, orang yang memiliki adiksi dengan rokok atau alkohol maka tidak perlu melalui pengadikan untuk mendapatkan perawatan.

"Hal ini berbeda dengan realita kebijakan narkotika Indonesia hari ini. Saya rasa itu harus segera diubah," jelasnya.