RUU Pemasyarakatan Tidak Disahkan, Kalapas Cipinang: Saya Undang Mahasiswa Bermalam di Lapas

Harian Terbit/Alee
RUU Pemasyarakatan Tidak Disahkan, Kalapas Cipinang: Saya Undang Mahasiswa Bermalam di Lapas
Suasana di dalam Lapas Cipinang (ist)

Kalapas Cipinang, Hendra Eka Putra mengaku sedih UU Pemasyarakatan tidak jadi disahkan. Dia berharap UU itu disahkan dan bisa dilaksanakan. Soalnya di dalam UU itu sebenarnya banyak hak-hak warga binaan yang bisa diberikan.

“Saya sedih karena mereka yang demo di luar itu belum tahu pasal-pasal yang tercantum di dalam UU tersebut, mereka sudah berbicara dan lakukan penolakan," kata Hendra menjawab Harian Terbit, Kamis (10/10/2019).

Untuk memahami dan mengerti kondisi warga binaan, Hendra mengundang mahasiswa untuk sekolah, satu hari tidur di Lapas. Biar mereka tahu dan merasakan satu kamar yang harusnya 5 orang, diisi puluhan sampai ratusan. Satu sayap itu diisi 180 dan hanya dijaga 1 orang.

“Bayangkan bagaimana petugas Lapas mengawal karena hanya dijaga satu petugas mengawal 180 orang. Ketika terjadi chaos saja, goodbye selamat. Berapa petugas kami yang mati di medan," papar Hendra.

“Maksud saya mengundang mahasiswa nginap di sel itu biar bisa saling berbagi rasa bagaimana rasanya narapidana di dalam yang menungggu hari hari dengan harapan dapat remisi, bebas bersyarat, cuti bersyarat. Semuanya sirna karena undang undangnya batal di terbitkan. Betapa sedihnya anak istri dan keluarganya. Selain itu menambah beban lagi buat kami petugas,” ungkap Hendra.

Hendra melanjutkan, kalau warga binaan tidak diberi hak-haknya nanti kita diangggap melanggar HAM. “Makanya saya sampaikan begitu saya bukan anti kritik ya pak. Saya anti narkoba dan bukannya pendukung karuptor. Saya kasihan ratusan ribu narapidana bergantung nasibnya di RUU yang dibatalkan itu,” ujarnya.

Mantan Kalapas Cilacap ini mengemukakan, apa yang disampaikannya tersebut hanya untuk mensosialisasikan, tidak bermaksud memanaskan suasana. “Kami ingin adem ayem, cool dan  semoga saja UU Pemasyarakatan yang baru bisa menjadi solusi kebuntuan dan kegundahan hati narapidana dan keluarganya.”

Seperti diketahui belum lama ini, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi menolak sejumlah RUU, salah satunya RUU Pemasyarakan.

Remisi

Hendra juga menyesalkan dengan pemahaman masyarakat yang menolak remisi dengan berbagai dalih. Padahal, remisi adalah warisan Belanda pada tahun 1824. Padahal RUU Pemasyarakatan itu akan menata ulang remisi yang berlaku.

"Dengan adanya UU Pemasyakatan baru menjadi tertata dengan baik. Seperti pemberian remisi dalam RUU itu ada standarnya. Dulu tidak ada standarnya. Suka suka kalapasnya, kalau berkelakuan baik-baik dapat remisi. Standarnya nggak ada," turu Hendra.

Dia meminta agar semua pihak melihat dan menilai permasalahan lapas secara menyeluruh. Seperti persoalan kunjungan suami menjenguk istri yang sedang dipidana atau sebaliknya. Belum lagi soal makan narapidana yang jauh dari standar.

"Di dalam UU Pemasyarakatan hanya Rp 18 ribu untuk tiga kali makan. Itu belum potong pajak PPN. Paling Rp 16 ribu dibagi 3 kali makan. Bapak bisa bayangkan layaknya nggak makan seperti itu?" kata Hendra.