Indro: Pelakunya Bukan Pro Jokowi, Siapa Dalang Kerusuhan Nasional?

Safari
Indro: Pelakunya Bukan Pro Jokowi, Siapa Dalang Kerusuhan Nasional?
Dok kerusuhan di wilayah Papua (ist)

Jakarta, HanTer - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono berharap dalang demonstrasi anarkistis yang terjadi di Jakarta dan kota lainnya, beberapa waktu lalu, segera ditangkap. Hendro optimistis apabila sang dalang segera ditangkap, demonstrasi yang bersifat merusak itu akan langsung berakhir

Siapa pelaku dan dalang kericuhan tersebut? Benarkah kerusuhan itu ada yang menciptakan untuk menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin?

Menurut pengamat politik Indro S Tjahyono, pelakunya bukan pro Jokowi. “Kalau ProJokowi yang ikut bikin kerusuhan pasti bukan. Jokowi mencegah relawan untuk ikut melakukan counter action. Apa yang dilakukan Jokowi adalah menghadapi kerusuhan secara formal, yakni melalui aparat kepolisian. Polisi dilarang membawa senjata api, kecuali alat pengendali massa,” kata mantan ketua Dewan Mahasiswa ITB ini.

Menurut Indro, hal ini dilakukan karena polisi tahu strategi mereka adalah menginginkan adanya korban (martir) untuk mengeskalasi gerakan. Walaupun kecolongan di Kendari, karena aparat non operasional (intel kepolisian) yang menembak 2 orang mahasiswa hingga tewas. Namun  tetnyata meninggalnya 2 mahasiswa ini ternyata tidak mengakibatkan eskalasi gerakan. 

Strategi polisi, yang sedikit melibatkan tentara, ternyata berhasil meredam gerakan. Dan upaya mengkaitkan gerakan ini dengan 212 melalui demo terakhir dan kelompok garis keras) juga berhasil digagalkan. Yang disusul dengan penangkapan seorang oknum Perwira Tinggi TNI dan seorang dosen perguruan tinggi negeri.

Semua kerusuhan ini, kata Indro,  ditujukan untuk menggagalkan pelantikan Jokowi pada tanggal 20 Oktober 2019. Tetapi selain itu ditunggangi oleh beberapa kepentingan. Pertama, posisi tawar untuk jabatan menteri (dari 02 dan pejabat aparat keamanan/pertahanan Jokowi); kedua, menekan Jokowi sekaligus pamer kekuatan untuk kepentingan pilpres/pemilu 2024.

“Ketiga, jika dimungkinkan penggulingan kekuasaan meniru 1997 bahwa Soeharto yang sudah terpilih sebagai presiden pun bisa digagalkan melalui SU MPR, dan terakhir kelompok yang menginginkan Jokowi jatuh karena tak terima dengan rencana Jokowi ambil alih aset senilai 11.000 triliun di Bank Swiss,” papar Indro.

Menurutnya, aksi kerusuhan ini diciptakan secara pararel yakni antara demo Revisi UU Korupsi dan kerusuhan di Papua. Puncak eskalasinya adalah Keadaan Darurat yang ujungnya TNI turun tangan dan seorang tokoh militer diorbitkan sebagai calon presiden. “Persis seperti skenario 1997/1998 yang saat itu Wiranto pegang kendali keamanan, tapi sayang Wiranto tidak mengambilalih kekuasaan,” paparnya.

Melihat berbagai kepentingan bermain di sini, maka unsur yang terlibat adalah dari internal Jokowi (melalui strategi pembiaran), kelompok yang melakukan posisi tawar minta jatah menteri dalam kabinet kerja Jokowi, oknum perwira tinggi TNI yang ingin ikut berkuasa lagi, kelompok pendukung mantan Presiden Soeharto, dan kelompok Islam radikal yang mendompleng persaingan politik elit.

Di lapis menengah terlibat kelompok kelas menengah sekuler yang selama ini peduli terhadap isu korupsi, kelompok sakit hati yang tokohnya disingkirkan Jokowi, oknum simpatisanyang loyal Prabowo, simpatisan oknum jenderal yang selama ini bersikap oposisi, jaringan Cendana eks pengurus Partai Berkarya (ada anak-anak HMI di sini), tokoh mahasiswa yang sudah dikooptasi, kelompok jihadis dari komunitas Islam radikal.

Pembagian Tugas

Pembagian tugasnya sebagai berikut. Unsur pemuda dan mahasiswa digerakkan oleh HMI; unsur massa lepas/bayaran oleh jaringan Prabowo dan kontraktornya; unsur pendemo anti korupsi oleh tokoh dari komunitas anti korupsi, perusuh Papua di Malang dan Surabaya, perusuh Papua di Papua, khususnya Wamena, oleh jaringan simpatisan pro Soeharto, massa Islam radikal yang dekat dengan tokoh nasional. Untuk menggerakkan kerusuhan di Papua dipakai Asrama Papua di Yogya dan Surabaya/Malang. 

Indro mengemukakan, mobilisasi ini lancar dilakukan dengan memanfaatkan kekecewaan massal akibat kekalahan dalam pemilu/pilpres 2019. Kedua,juga pendanaan yang besar khususnya dari kelompok simpatisan Soeharto. 

Ketiga, lanjutnya, kekecewaan orang dalam Jokowi karena berbagai kebijakannya. Yang terakhir ini cenderung membiarkan dan menunggu blunder dari pemerintah.

Tesis dasar kerusuhan adalah bahwa untuk melakukan perubahan politik mendasar di Indonesia dibutuhkan gerakan massal rakyat yang masif seperti 1966, 1974, 1977/1978, 1997/1998. “Karena partai politik tidak bisa diharapkan untuk memuaskan tuntutan rakyat akan perubahan mendasar. Ini dilaksanakan dengan atau tanpa chaos,” papar Indro. 

Rusuh Papua

Sementara itu, pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, akar semua kemelut RUU/UU dan masalah Papua 95% bersumber pada Jokowi. Karena Jokowi mengendalikan penuh birokrasi, polisi, militer dan lebih 64% parlemen. Jika Gerindra, Demokrat dan PAN bergabung maka sekitar 90% parlemen mendukung Jokowi tanpa ada check and balance.

"Jadi pembantaian di Papua karena birokrasi dari pusat ke daerah terkesan melakukan pembiaran," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Minggu (6/10/2019).

"Jika diamati memang gerakan demo kemarin banyak jaringan Veronica Koman yang saat ini buron polisi provokator kerusuhan Papua," paparnya.

Terpisah, pengamat intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan, kerusuhan Papua pelakunya mengarah kepada OPM, yang memanfaatkan beredarnya hoaks dengan konten rasial. Prioritas pemerintah tentu memulihkan kondiis dan menciptakan rasa aman kemudian melakukan rekonsiliasi dan rehabilitasi.

"Kasus Papua terutama Wamena bukan didesain secara khusus untuk seperti itu tetapi memang ada pihak yang memanfaatkan situasi yang terjadi untuk kepentingan mereka termasuk kepentingan politik," ujar Stanislaus, Minggu (6/10/2019)."Dalangnya mengarah kepada OPM, mereka punya kepentingan kuat di Papua," tambahnya.

Aksi Mahasiswa

Sementara terkait aksi mahasiswa diberbagai daerah dan Jakarta khususnya, Stanislaus menyebut, ada dua kelompok yang terlibat dalam aksi mahasiswa. Yakni, kelompok yang murni melakukan protes terkait UU/RUU. Serta kelompok yang menumpang isu menurunkan Jokowi dan isu mengusung ideologi lain. Kelompok kedua ini yang membuat demo menjadi negatif bahkan ada yang ditangkap membawa material bom. 

"Jadi demo di Jakarta memang murni oleh mahasiswa tapi ada penumpang gelap yang akan memanfaatkan momen demo tersebut untuk kepentingannya sendiri," paparnya.

Koordinator Eksekutif Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional (JAKI) Yudi Syamhudi Suyuti mengatakan, apa yang dilakukan warga negara lewat aksi adalah bentuk koreksi atas cintanya pada negara, keadilan dan kemanusiaan. 

Oleh karena itu, lanjutnya, aksi itu bergerak secara spontan non struktural. Oleh karena itu Syamhudi menyarankan untuk mencari siapa dalangnya. Jika pun ada justru patut dicuriga ada rekayasa."Yang pasti dalangnya koruptor, penjahat kemanusiaan dan perusak lingkungan hidup. Itu setan-setan perusaknya," tandasnya.

#Kerusuhan   #papua   #demo   #mahasiswa   #jokowi   #polisi   #tni