Seminar Kebangsaan 'NKRI Mau Dibawa Kemana', Wujud Merespons Situasi Nasional Saat Ini

romi
Seminar Kebangsaan 'NKRI Mau Dibawa Kemana', Wujud Merespons Situasi Nasional Saat Ini
Ki-Ka: Kasandra, Christianto, Connie, Rio Sarwono, Suhendra, Rudi S Kamri/ ist

Jakarta, HanTer - Gelombang unjuk rasa yang terjadi disejumlah daerah membuat banyak pihak prihatin dengan negara ini. Terlebih, aksi tersebut berlangsung secara serentak dan merata di seluruh pelosok negeri.

Belum lagi rentetan aksi di gedung MPR/DPR RI dan Istana yang dilakukan secara berturut-turut adalah sederet persoalan nasional yang tidak bisa disepelekan. Artinya, membutuhkan perhatian lebih dari setiap komponen dan elemen bangsa.

Nah, merespon situasi dan peristiwa nasional yang disebutkan, Indonews sebagai wadah yang selalu konsen dan prihatin atas situasi dan kondisi sosial politik bangsa merasa terpanggil untuk membedah setiap peristiwa bangsa ini dari beragama sudut pandang melalui seminar kebangsaan. 

Pengamat Sosial Politik Rudi S Kamri dalam pemaparannya mengatakan kegaduhan yang terjadi selama ini ada tujuan khusus dari kelompok tertentu seperti mafia migas, kelompok bekas order baru dan lain sebagai berupaya melengserkan Jokowi dengan memanfaatkan letupan-letupan kecil ini.

Maka dari itu, lanjut Rudi, saya menyarankan kepada Presiden agar membentuk tim untuk menyusun pasal-pasal ini untuk mendapatkan gambaran besar, sehingga presiden memperoleh gambaran utuh atas kasus dan kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini. 

"Beruntungnya, para pengawal Jokowi cukup kuat mengawal pemerintahan ini, sehingga sampai saat ini pemerintah Jokowi masih aman terkendali," kata Rudi di seminar bertajuk “Muara Unjuk Rasa: NKRI Mau Dibawa Ke Mana?” di Balai Sarwono, Jl. Madrasah No. 14, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, (3/10/2019)

Sedangkan, Pengamat Ekonomi Politik Christianto Wibisono mengatakan ada persengkokolan para elit dan politisi yang men-design aksi-aksi ini untuk mengulang kembali sejarah kelam masa lalu bangsa ini, rincinya sejarah 1966 dan 1968.

Menurutnya, skenario ini persis adalah daur ulang mirip penolakan laporan pertanggung jawaban Habibie yang berdampak pengunduran diri Habibie.
"Seperti penolakan BEM atas gesture Presiden menerima di Istana, Persis seperti kala Mayjen Soeharto menolak Presiden Sukarno ke Halim 1 Oktober 1965," kata Christianto.

Pengamat Intelijen, Suhendra Hadikuntono dalam penjelasannya mengatakan masalah pokok soal koflik selama ini adalah terletak pada masalah komunikasi pada tim intelijen. Peran inteligen saat ini tidak kuat.

Soal kasus-kasus selama ini, ia mencotohkan bagaimana peran intelijen ketika Indonesia berkonflik dengan Vietnam yang telah melakukan pelanggaran HAM terhadap orang-orang Indonesia di Vietnam. Kasusnya terselesaikan dengan senyap.

Sementara itu, Pengamat Pertahanan dan Militer, Connie Rahakundini mengatakan aksi-aksi selama ini merupakan wujud dari perang masa depan yakni peran media sosial. Maka dari itu, untuk menyelesaikannya tidak bisa dengan cara turun ke jalan.

"Ancaman terbesar dari bangsa ini adalah mis-informastion dan propaganda sosial media. Sosial media itu paling berbahaya," terang Connie. 

Para pembicara tersebut, antara lain, analis Ekonomi Politik, Christianto Wibisono, Analis Pertahanan dan Militer, Connie Rahakundini, Pengamat Sosial Politik dan Pegiat Media Sosial, Rudi S Kamri, dan Pengamat Intelijen, Suhendra Hadikuntono, Psikolog yang menangani teroris dan kaum Radikal, Kasandra, serta Pemimpin Redaksi Indonews, Asri Hadi selaku moderator acara. 
 

#NKRI   #Mau   #Dibawa   #Kemana