Usut Dugaan Kartel Motor, Massa Gelar Aksi Ngamen di AHM & Astra Internasional

Safari
Usut Dugaan Kartel Motor, Massa Gelar Aksi Ngamen di AHM & Astra Internasional

Jakarta, HanTer  - Kelompok massa mengatasnamakan dengan Gerakan Lawan Mafia Kartel menggelar aksi 30 S mengamen di Astra Honda Motor (AHM) dan Astra Internasional, Jakarta Senin (30/9/2019). Aksi ini merupakan lanjutan mengamen untuk disumbangkan ke AHM dan Yamaha sebagai sumbangan membayar denda KPPU.

"Semoga AHM dan Yamaha bisa menjadi contoh perusahaan terbesar di Indonesia itu taat hukum dengan menjalankan putusan pengadilan sebagai bentuk hukuman. Ikuti aturan pemerintah jika masih ingin berinvestasi di negara ini, jangan membangkang," tegas Arief di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara melalui putusan  Nomor 163/Pdt.G/KPPU/2017/PN.Jkt.Utr. Tahun 2017 PT Astra Honda Motor selaku produsen motor Honda dinyatakan kalah melawan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), atas tuntutan sebagai kartel motor.

Putusan tersebut dikuatkan oleh Mahkamah Agung dengan dengan putusan Nomor 217 K/Pdt.Sus-KPPU/2019 Tahun 2019. Astra Honda Motor sudah dinyatakan bersalah dan harus membayar denda Rp. 22.5 Milyar.

Selain itu, mereka juga menuntut beberapa hal, antara lain: AHM harus segera meminta maaf kepada masyarakat Indonesia khususnya konsumen atas dugaan permainan kartel; turunkan harga motor yang di produksi oleh AHM, bayar denda untuk sangsi kasus kartel motor AHM, kembalikan uang konsumen sekarang juga (cash back Rp 3 juta) untuk motor Honda dan Yamaha yang dibeli tahun 2017-2019; meminta KPK untuk segera lidik dugaan mafia kartel yang sudah disampaikan KPPU.

"Aksi tidak hanya berhenti di sini saja, akan ada aksi lanjutan dengan massa yang lebih banyak. Masyarakat pengguna motor Honda dan Yamaha sangat dirugikan dan akan kami ajak untuk menuntut cash back, ini sebagai bentuk pertanggungjawaban atas aksi kartel yang sudah divonis MA," katanya lagi.

Meskipun pernah ada perlakukan yang represif yang diterima mahasiswa namun mereka tetap tidak gentar untuk terus melakukan aksi hingga tuntutan terpenuhi.

"Kami tidak akan takut, dan kami tahu kami dibuntuti. Suara rakyat ini bisa semakin membesar dan bisa jadi puncak gunung es jika aspirasi tidak dipenuhi. Contoh aksi kritisi kinerja DPR yang sampai saat ini masih terus terjadi dan membesar," pungkasnya.