Mengkebiri Al-Quran dan Hadist, Kemenag Akan Hapus Perang Rasulullah di Pelajaran Islam

Safari
Mengkebiri Al-Quran dan Hadist, Kemenag Akan Hapus Perang Rasulullah di Pelajaran Islam

Jakarta, HanTer - Beredar kabar Kementerian Agama (Kemenag) akan menghapus materi perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang selama ini selalu dipelajari murid-murid Muslim di berbagai sekolah.

Menanggapi kabar tersebut, aAnggota Komisi VIII DPR Prof Dr H Hamka Haq, MA, menegaskan, tidak setuju jika semua materi pelajaran perang yang dialami Nabi Muhammad SAW akan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. 

Alasannga, perang yang dialami Nabi Muhammad merupakan sejarah yang tidak bisa dilupakan. Perang pada zaman Nabi Muhammad SAW juga dilakukan sebagai bentuk pertahanan karena mendapatkan serangan dari pihak musuh.

"Tidak dihapus semua (materi perang zaman Nabi Muhammad) tapi diberi penekankan bahwa perang zaman Nabi Muhammad SAW karena mendapatkan serangan dari luar. Sehingga yang dilakukan umat Islam bagaimana bertahan. Tidak ada cerita umat Islam itu yang menyerang awal," tegas Prof Dr H Hamka Haq, MA, kepada Harian Terbit, Kamis (19/9/2019).

Hamka memaparkan, siapapun orang atau kelompok ketika diserang pasti membela diri untuk bertahan. Oleh karena itu agama Islam bukan agama yang suka perang. Tapi agama yang membela diri ketika diserang oleh musuh-musuhnya. Perang di zaman Nabi Muhammad SAW juga terjadi agar terjadi perdamaian dan Nabi sering melakukan perdamaian dengan lawan - lawan politiknya, seperti dengan pihak Quraish.

Hamka menuturkan, jika materi pelajaran perang zaman Nabi tetap dihapus maka Komisi VIII DPR yang menjadi mitra Kemenag akan pihaknya akan meminta penjelasan dari Kemenag apa dasar dan alasan materi pelajaran perang zaman Nabi bisa dihapus. Jika pun dihapus maka jangan dihapus semua materi pelajaran perang karena hal itu merupakan sejarah dari perkembangan Islam.

"Mungkin Kemenag menghapus materi pelajaran perang. Karena selama ini dikesankan bahwa Islam agama yang suka perang," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212 Habib Novel Bamukmin mengatakan, perang di zaman Nabi Muhammad adalah berjihad dan  perintah Allah SWT yang wajib dan suci untuk dijalankan. Mengingkari perang di zaman Nabi Muhammad SAW  adalah mengingkari ayat ayat suci. Oleh karena itu sebelum menghapus materi pelajaran perang di madrasah maka Menag harus introveksi diri terkait kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag. 

"Jika memaksakan menghapus materi pelajaran perang zaman Nabi Muhammad SAW di madrasah maka Menag wajib dipecat secara tidak hormat. Karena sudah merusak syariat serta membuat kegaduhan lagi yang menjurus perpecahan rakyat indonesia.. ini rongrongan serius dan menyesatkan dan lebih berbahaya dari teroris," tandasnya.

Sangat Keliru

Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, KH Anton Tabah Digdoyo mengatakan, sangat keliru jika Kemenag menghapus sejarah perang Rosululloh. Dengan menghapus sejarah perang Rasululloh berarti telah mempelajari sejarah tidak utuh. Karena jika menyembunyikan sejarah maka nantinya justru dituduh Islam tidak jujur. Apalagi sejarah perang Rosululloh hanya menyerang jika diserang sehingga ajaran Islam wajib beladiri.

"Perang dalam Islam sangat santun.  Dilarang nyakiti tawanan, dilarang nyakiti wanita, anak, lansia dan dilarang bunuh yang menyerah. Lihat hadist riwayat Muslim 3615. Ibnu Majah3161. ADaud 2422. Nasai 4329 Tirmizi 1529," ujarnya.

Anton menuturkan, perjanjian Islam dengan kaum kafir yang terkenal dengan Piagam Madinah ribuan tahun lebih dulu dari konsep HAM PBB telah dijadikan rujukan HAM dunia. Karena itu jika kini ada narasi Islam berkembang dengan perang adalah fitnah kaum atheis, liberalis, sekuleris yang hendak merusak Islam," tegasnya.

Anton pun meminta agar Kemenag tidak menghapus materi pelajaran perang Rasullulah dan peperangan dalam Islam lainnya. Justru sejarah perang Islam itu penting disosialisasikan agar umat manusia semakin memahami tentang Islam yang terbuka tolerans dan sesuai dengan ikon Islam "tidak ada paksaan dalam agama/ bagimu agamamu bagiku agamaku (Quran Surat 2 dan Surat 109). 

Anton menilai, saat ini fitnah terhadap Islam semakin gencar justru dilakukan oleh tokoh-tokoh yang mengaku Islam. Kasus Abdul Aziz UIN Jogja, isu benci Arab, baca Quran dengan langgam suku-suku, dan isu akan merevisi Al Quran dan lainnya. Memahami sejarah secara utuh dengan cara penyampaian yang mulia (qoulan karima) sangat dianjurkan oleh Al Quran. 

"Pelajari sejarah dengan jujur jangan diplintir apalagi sebar fitnah. Fakta. Hanya Islam yang sangat ilmiah dan terus berkembang pesat di seluruh dunia," paparnya.

Pengasuh Ponpes Tahfidz Qur'an (PPTQ) Al Bayan, Bojonegoro, Jawa Timur, Ustadz Harits Abu Ulya mengatakan, menghapus materi perang dari kurikulum madrasah adalah sikap "deffensif apologetic" yakni sebuah sikap produk dari nalar terpapar yang memuja liberalisme dan pluralisme secara radikal dalam kehidupan. Oleh karena itu gagasan Kemenag yang akan menghapus materi perang dari kurikulum madrasah tidak punya pijakan normatifnya.

"Jika benar di laksanakan itu sama artinya Kemenag menjadi bagian dari intrumen untuk merusak pemahaman umat Islam dan mengotori ajaran-ajaran Islam yang telah baku," ujarnya.

Harits menuturkan, jika materi perang dari kurikulum madrasah dihapus maka sikap Kemenag juga ahistoris, karena Indonesia merdeka ini juga berkat perang dan spirit jihad yang tertanam dalam jiwa umat Islam. Kemenag seperti bawur sejarah, bagaimana Rasulullah SAW menetapkan jihad (perang) fi sabilillah sebagai kewajiban agung bagi umat Islam. Rasulullah memberikan legitimasi dengan memberi contoh praksisnya secara rigid. 

Sejatinya agenda-agenda di atas adalah proyek penyesatan dan penyimpangan terhadap ajaran Islam yang baku, hendak membawa umat Islam menjauh dari kebenaran Al Quran dan As Sunnah. Dan mereka menawarkan bahasa-bahasa penghalusan yang hakikatnya adalah tahrif (penyimpangan) semisal; muslim moderat, muslim toleran, muslim pluraris.

“Insya Allah umat Islam saat ini cukup sadar jika mereka dan agamanya menjadi obyek perang pemikiran, perang ideologi, perang budaya dari pihak-pihak yang benci kepada Islam (IslamPhobia). Seperti yang sudah di kabarkan dalam Al Qur'an.QS. As-Saff 61: Ayat 8). Semoga para pembenci Islam diberagam tingkat jabatan di beri hidayah Allah swt sebelum ajal kematian mereka menyapa.

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020.

"Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (madrasah ibtidaiyah) sampai MA (madrasah aliyah)," kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, di Jakarta, Jumat, (13/9/2019).