DPR Minta Sriwijaya Air Tidak Seperti Kacang Lupa Kulitnya

sammy
DPR Minta Sriwijaya Air Tidak Seperti Kacang Lupa Kulitnya

Jakarta, HanTer - Hubungan kerja sama antara Garuda atau Citilink dan Sriwijaya Air yang terjalin sejak Oktober 2018 lalu, disebut-sebut kian renggang. Hal itu terjadi pasca terjadi perombakan sejumlah direksi Sriwijaya Air yang dilakukan secara sepihak.

Komisi VI DPR menyebut, pihak Sriwijaya Air lupa diri setelah Garuda atau Citilink membantu membayarkan hutang triliunan rupiah kepada sejumlah BUMN dan mengangkat Sriwijaya Air dari kebangkrutan.

"Jadi ini sebenarnya Kementerian BUMN tidak lihat dulu ketika Sriwijaya Air meminta bergabung dengan Garuda atau Citilink. Ketika itu kan Sriwijaya Air punya hutang ke Pertamina, ke Angkasa Pura juga, dengan hutang triliunan, sekarang saat sudah dibantu, mereka akan tendang Citilink dan Garuda," kata Anggota Komisi VI DPR Inas Nasrullah Zubir, di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Inas menilai, tindakan Sriwijaya Air yang melaporkan Garuda atau Citilink ke Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) tak berdasar. Karena, sejak awal disepakati bahwa Garuda dan Citilink yang mengelola Sriwijaya Air sebagai bagian dari kerja sama.

KPPU, lanjut dia, seharusnya ikut menyelamatkan aset negara yakni Garuda atau Citilink.

"Nah itu, saya harus mengatakan KPPU harus tegas dalam arti ini harus mengamankan benar-benar aset negara yaitu Garuda dan Citilink. Zaman sekarang jangan mau ditipu oleh swasta yang bermain api, kita tahu kan siapa yang punya Sriwijaya, si pengusaha timah itu kan," tukas Inas.

"Saya minta KPPU harus cerdas dan cermat, dalam artian jangan sampai KPPU terbeli oleh mereka (pemilik Sriwijaya Air)," tegasnya.

Prihal bagaimana Komisi VI DPR akan bersikap, menurutnya, karena masa kerja DPR periode sekarang kurang dari dua pekan lagi, maka hal ini nampaknya akan diproses oleh DPR periode selanjutnya pada Oktober mendatang.

"Kalau Komisi VI udah nggak memungkinkan karena waktu sudah mepet, ada beberapa undang-undang. Saya kira Komisi VI yang akan datang pada bulan Oktober yang akan undang. Harus bersikap dia," ujarnya.

Namun demikian, Inas mendesak Menteri BUMN untuk bersikap dan bertanggung jawab atas konflik Garuda atau Citilink dengan Sriwijaya Air ini. Karena bagaimanapun, Menteri BUMN yang memberikan solusi kepada Sriwijaya Air dengan bergabung ke Garuda atau Citilink.

"Dan ini Kementerian BUMN harus bersikap membela Garuda dan Citilink, karena yang memberi solusi itu kan Kementerian BUMN, sekarang Menterinya suruh tanggung jawab," desak Inas.

Ia sekaligus mengingatkan sekali lagi kepada pihak Sriwijaya Air untuk bersikap profesional dan seolah luoa bahwa Garuda lah yang telah mengangkat Sriwijaya dari kebangkrutan.

"(Sriwijaya Air, red) Jangan seperti kacang melupakan kulitnya," tandasnya.

#Sri   #Wijaya