Narkoba dan Teroris Kejahatan Luar Biasa

Safari
Narkoba dan Teroris Kejahatan Luar Biasa

Jakarta, HanTer - Fraksi Partai Gerindra DPR RI menyatakan agar pemberian remisi kepada narapidana terorisme, narkoba, dan korupsi harus dilakukan dengan asas kehati-hatian.

Hal itu, menurut ,anggota Fraksi Partai Gerindra Wihadi Wiyanto di Jakarta, Selasa (17/9), karena kejahatan narkoba dan terorisme adalah kejahatan luar biasa atau "extra ordinary". 

“Narkoba dan teroris memang menjadi kejahatan yang luar biasa.” ujar Antropolog dari Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiady kepada Harian Terbit, Rabu (18/9/2019).

Menurut Yophie, narkoba yang sudah menjadi musuh bersama namun sanksi bagi pelakunya berbeda-beda. Jika orang berduit atau artis yang terjerat narkoba maka umumnya direhabilitasi. Artis atau orang berduit juga jarang terkena hukuman mati walaupun jumlah narkoba yang ditangkap tangan sudah layak dihukum mati.  Hal ini bisa dilihat dari kasus artis Steve Emanuel.

Sementara jika golongan "kroco", sambung Yophie, maka umumnya masuk bui. Saat ditangkap juga harus mendapatkan gentakan dari petugas. Sehingga pelakunya tidak bisa berkutik. Pihak terkait belum mendalami "konsep" peredaran narkoba yang marak hingga pelosok gang sempit kota sampai pelosok desa pinggiran hutan - tujuannya untuk mengantisipasi modus peredarannya. 

Pengamat kebijakan narkotika, Yohan Misero mengatakan, Indonesia tidak spesial dalam hal mengatasi narkotika yang sudah menjadi musuh bersama di dunia. Oleh karena itu tidak heran ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) kerap menggelar operasi dan menyita beragam jenis narkoba. Satu di antaranya BNN wilayah Sumatera Utara menyita sebanyak 70 bungkus sabu dengan berat 81,862 kg dan 20 bungkus ekstasi dengan jumlah 102.657 butir yang berasal dari Malaysia.

Yohan menilai, maraknya peredaran narkoba di Indonesia bukan karena ringannya hukuman bagi para pelakunya. Karena negara lain juga mengalami hal yang sama terkait narkoba. Bahkan hukuman yang diberikan di Indonesia untuk mereka yang memperdagangkan narkotika sudah sangat tinggi. Karena mereka yang mengedarkan narkotika diancam dengan hukuman mati. Di antara pelakunya juga sudah ada beberapa kali eksekusi mati terhadap pelakunya.

"Sudah ada beberapa kali eksekusi mati tapi tetap saja peredaran gelap narkotika terjadi. Bahkan ada upaya impor yang dilakukan satu hari pasca eksekusi. Maka menurut saya kuncinya bukan dihukuman yang berat. Tapi apakah setiap orang yang melanggar ditindak atau tidak?," ujarnya.