APVI Sebut Korban VAPE di Amerika Disebabkan THC Oil, Bukan Liquid Legal

Danial
APVI Sebut Korban VAPE di Amerika Disebabkan THC Oil, Bukan Liquid Legal
Ilustrasi

Jakarta, HanTer - Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) sebagai asosiasi terbesar di Indonesia yang menaungi sekitar hampir 1.000 lebih anggota pengusaha Vape, merasa perlu untuk memberikan klarifikasi kepada semua pihak, mengenai berita tentang korban Vape di Amerika yang ramai juga diberitakan di tanah air, termasuk kepada pemerintah mengenai Vape itu sendiri.

“Kami selama ini telah menjalin hubungan yang baik duduk bersama pemerintah dalam membuat kebijakan khusus bagi industri Vape. Kami merasa berkewajiban untuk membuat klarifikasi terhadap beberapa pemeberitaan yang menyatakan bahwa kegiatan Vaping ini telah menelan korban meninggal dan beberapa pemberitaan negatif mengenai Vape, sehingga publik berhak mendapatkan pemberitaan yang adil,” ujar Aryo Andrianto Ketua APVI dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Lanjut Aryo, berita tersebut sebenarnya sudah kami ketahui sejak beberapa minggu lalu dan pemberitaan tersebut adalah pemberitaan yang terjadi di Amerika.

“Pemberitaan itu kami konfirmasikan kepada Asosiasi Vape diseluruh dunia. Dan kami sekali lagi mendapatkan penjelasan bahwa kasus itu terjadi di Amerika dan benar adanya tetapi bukan karena liquid vape yang normal/legal/yang biasa digunakan oleh umumnya pengguna vape atau vapers,” kata Aryo.

Masih terkait pemberitaan itu Aryo menjelaskan bahwa berita meninggal dunia beberapa orang di Amerika itu dikarena korban mengkonsumsi THC oil yang berkadar tinggi yang dijual secara illegal atau black market di Amerika.

“THC oil adalah unsur utama psikoaktif yang terdapat di dalam tanaman ganja. Zat ini yang disalah gunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan ada juga ditemukan kandunganya terdiri dari muatan minyak Vitamin E dosis tinggi dengan menggunakan media yang sama dengan alat alat vape yang biasa di gunakan. Artinya ini kasuistis,” papar Aryo.