TAJUK: Mengapresiasi Kenaikan Tarif Cukai Rokok 

***
TAJUK: Mengapresiasi Kenaikan Tarif Cukai Rokok 

Pemerintah memutuskan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen. Keputusan ini diambil dalam rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/9/2019). 

Menteri Keuangan Sri Mulyani usai rapat mengatakan, dengan kenaikan cukai rokok ini maka otomatis harga jual rokok eceran juga naik, yakni ke angka 35 persen. Kenaikan cukai dan harga jual eceran ini mulai berlaku 1 Januari 2020 dan akan ditetapkan dalam peraturan menteri keuangan (PMK). 

Berbagai kalangan menyambut positif keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok tersebut. Kebijakan ini dinilai tepat dan cerdas, karena akan mencegah rakyat agar tidak menjadi pecandu berat rokok, mencegah anak-anak tidak jajan rokok karena murahnya harga rokok di negeri ini.

Selain itu tentu semakin mengurangi orang yang merokok maka resiko bahayanya rokok semakin bisa berkurang. Kenaikan cukai rokok juga akan menambah penerimaan Negara.

Seperti diketahui, belanja rokok menempati peringkat kedua dalam konsumsi rumah tangga dalam keluarga miskin. Bahkan keluarga miskin lebih memilih belanja rokok daripada belanja makanan bergizi. 

Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susanas) 2015 mengungkapkan bahwa belanja rokok telah mengalahkan belanja beras. Konsumsi rokok ini setara atau bahkan mengalahkan konsumsi total untuk daging, susu, telur, ikan, pendidikan, dan kesehatan.

Tiga dari empat keluarga Indonesia memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Kelompok keluarga termiskin justru mempunyai prevalensi merokok lebih tinggi daripada kelompok pendapatan terkaya. Bahkan BPS menyatakan rokok menjadi penyumbang kemiskinan terbesar nomor dua. 

Tingginya belanja rokok keluarga miskin tentu saja sangat mengganggu program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Karena itu, berbagai kalangan menilai rokok sebagai perangkap kemiskinan. 

World Health Organization (WHO) punya data yang cukup menarik. Organisasi kesehatan dunia ini mencatat mayoritas perokok di seluruh dunia berasal dari negara miskin dan berkembang. Di Indonesia rokok menyumbang kemiskinan teratas setelah bahan pokok seperti beras. 

Bila warga perkotaan dan pedesaan mengurangi konsumsi rokok dan mengalihkan uangnya untuk belanja beras, garis kemiskinan bisa ditekan. Sehingga, kontribusi terhadap konsumsi makanan atau pemenuhan kalori bisa meningkat, dan bisa keluar dari garis kemiskinan.  

Melihat keadaan ini semua pihak harus terus meneruis mengencarkan program antirokok jika lingkungan permisif terhadap rokok. Disisi lain, tentu peran orangtua dan sekolah sangat penting dalam mengawasi perilaku dan lingkungan pergaulan anak-anak dan remaja. 

Pemerintah dan parlemen juga harus mengawal dengan ketat agar legislasi anti tembakau betul-betul sesuai dengan target, yakni membangun generasi muda Indonesia yang sehat dan sejahtera, bebas dari asap rokok. 

Selain itu, program-program penyadaran remaja mengenai bahaya rokok perlu sama gencarnya dengan promosi rokok yang biasanya dibuat sedemikian bagus dan soft, sehingga kaum muda tak menyadari tujuan sebenarnya dari iklan tersebut.  

Hal lain yang perlu dilakukan untuk mengurangi masyarakat kita mengkonsumsi rokok,  adalah dengan mempersulit penjualan rokok secara eceran atau satuan. Sebuah studi itu mendapati temuan yang juga cukup mengkhawatirkan, 64 persen toko di negara miskin menjual rokok secara eceran, sedangkan negara maju hanya didapati 2,6 persen saja.  

Sekali lagi, kita meminta pemerintah berkomitmen membatasi penjualan dan iklan promosi rokok dengan ketat. Hanya di Indonesia rokok dijual bebas. Jadi untuk mengatasi konsumsi rokok di rumah tangga miskin ya harus dijual mahal. Jangan (dijual) ketengan, dan iklannya harus dilarang total.  

Akibat mudah dan murahnya rokok di negara miskin semakin membuka lebar pangsa pasar perokok muda yang tak sanggup membeli rokok dalam kemasan satu bungkus. Mereka terjebak dengan anggapan bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan, juga menganggap rokok bagian dari gaya hidup.

Mari bersama-sama mencegah agar masyarakat kita stop untuk mengonsumsi rokok. Kita ingatkan mereka bahwa rokok itu pangkal miskin dan merokok sebagai perangkap kemiskinan dan tidak baik bagi kesehatan.

#Rokok   #cukai