Public Talks, TIDI Rumuskan 8 Poin Memperkuat NKRI

Danial
Public Talks, TIDI Rumuskan 8 Poin Memperkuat NKRI
Public Talks bertajuk Mencegah Disintegrasi Bangsa dari Residu Pemilu hingga isu Papua, Jakarta, Minggu (15/9/2019).

Jakarta, HanTer - The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) bersama tokoh bangsa merumuskan 8 point untuk memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Beberapa point ini menjadi inti pemikiran dalam diskusi atau Public Talks bertajuk Mencegah Disintegrasi Bangsa dari Residu Pemilu hingga isu Papua, Jakarta, Minggu (15/9/2019).

Direktur Eksekutif TIDI, Arya Sandhiyudha mengatakan, diskusi ini memberikan beberapa point penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia terutama setelah terjadinya konflik di Papua beberapa minggu yang lalu.

"TIDI bersama dengan tokoh muda dari berbagai elemen merumuskan delapan point untuk mencegah disintegrasi sekaligus memperkuat rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia," ujar Arya kepada wartawan di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (15/9/2019).

Dijelaskannya, beberapa point yang menjadi solusi bersama untuk memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia yakni:

1. Menjaga komunikasi, silaturahim dan komunikasi melalui program bersama antar entitas dan organisasi yang kami pimpin untuk memperkaya basis penguasaan perspektif Global dan Lokal, karena permasalahan bersifat multi persepsi.

2. Menjadi bagian solusi pembangunan berbasis pendekatan antropologis yang menjunjung tinggi pembangunan budaya dan manusia.

3. Menjadi bagian dari anak bangsa yang memajukan Indonesia dengan memperhatikan kesetaraan dan distribusi kawasan lintas segmen. Manajemen Sumber Daya Alam SDA di masa depan sangat menentukan keberlanjutan potensi nasional.

4. Menjadi bagian solusi untuk menyadarkan pentingnya perbaikan kualitas penyelenggaraan Negara, terutama melalui peningkatan kualitas pejabat publik dan anggota legislatif yang punya kapasitas dan kualitas.

5. Menjaga komitmen terhadap Pancasila agar Indonesia tetap utuh menjadi tanah bagi anak bagi segala bangsa yang sangat berwarna bagai pelangi. Menjaga persatuan perasaan untuk memajukan masyarakat modern, adil, makmur, berbasis spiritual dan intelektual cerdas, serta berkeadilan hukum dalam menghadapi bonus demografi di era pasca demokrasi (post democracy).

6. Menekan ego kelompok untuk menyatukan persatuan perasaan untuk menghindari situasi terpecah belah. Persatuan perasaan adalah dasar agar bisa menjadi bangsa yang memimpin di dunia.

7. Merumuskan Indeks Integrasi Negara Bangsa, terutama yang dapat mendorong terhapusnya ketidakadilan, kebebasan, penindasan. Memajukan praktik Keadilan, Kebebasan, dan Kesejahteraan. Pendekatan tidak boleh dengan cara kekerasan dan dihargai kesetaraan.

8. Menjadi solusi dengan menyudahi kontradiksi antara sumber kekayaan dengan kemiskinan. Arus pembangunan infrastruktur harus diseimbangkan dengan kemampuan pengakuan terhadap komunitas yang punya kebutuhan spesifik tertentu.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan diantaranya Pakar Politik Prof Firman Noor, Peneliti Papua Center LPPSP FISIP Universitas Indonesia, Prof Bambang Shargi Laksmono, Presiden HDMI Habib Idrus Al Jufri, mantan staf khusus presiden Republik Indonesia, Velix Wanggai, mantan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Lidya Natalia Sartono, politisi muda dari Partai NasDem Lathifa Al Anshori, Pendeta Albertus Pati dari Persekuatan Gereja Indonesia (PGI) dan ekonom TIDI Handi Risza.