Kenaikan Tarif Cukai Rokok Kebijakan Tepat dan Cerdas

Alee
Kenaikan Tarif Cukai Rokok Kebijakan Tepat dan Cerdas
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria

Jakarta, HanTer—Berbagai kalangan menyambut positif keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen, serta harga jual eceran menjadi 35 persen.

“Ini kebijakan yang tepat dan cerdas, karena akan mencegah rakyat agar tidak menjadi pecandu berat rokok, mencegah anak-anak tidak jajan rokok karena murahnya harga rokok di negeri ini, dan semakin mengurangi orang yang merokok maka resiko bahayanya rokok semakin bisa berkurang. Kenaikan cukai rokok juga akan menambah penerimaan Negara,” kata Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Menurut Sofyano, harusnya harga rokok diatur dan ditetapkan pemerintah sebagaimana pemerintah mengatur harga BBM subsidi. Pemerintah harus kenakan cukai yang tinggi kepada produk Rokok yang dihasilkan oleh mesin dan tidak boleh lagi ada iklan rokok dalam bentuk apapun dan dimanapun.

“Tentu saha penjual rokok yang menjual rokok kepada anak-anak dibawah umur harus diberikan sanksi. Perlu juga ada larangan berjualan rokok pada area yang dekat dengan gedung sekolah dan seluruh area sarana pendidikan dilarang merokok,” papar mantan wartawan ini.

Dukungan kenaikan tarif cukai rokok juga disampaikan Indah, mahasiswi. “Saya setuju banget cukai dan harga jual rokok naik supaya orang yang merokok berkurang. 

“Para perokok itu jelas merusak kesehatan mereka yang bukan perokok (perokok pasif) karena menghirup asapnya. Saya sebel kalau ada orang merokok di dekat saya, kan asapnya masuk ke hidung saya. Bila perlu harga rokok 100 ribu per bungkus biar semua pada stop merokok,” kata Indah.

Supri, sopir angkot tak ambil pusing dengan kenaikan cukai dan harga rokok. “Kalau harga rokok mahal ya berhenti merokoklah….atau merokok lintingan diisi tembakau,” paparnya.

Penerimaan Negara

Menteri Keuangan Sri Mulyani usai menghadiri rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta pada Jumat sore, mengemukakan, pemerintah akan memulai persiapan untuk kenaikan cukai itu, salah satunya dengan pencetakan cukai pada masa transisi.

Menkeu menjelaskan pemerintah telah mempertimbangkan keputusan itu baik dari sisi industri, tenaga kerja, hingga sektor pertanian. "Diketahui bahwa kebijakan cukai bertujuan untuk tiga hal, dalam hal ini untuk mengurangi konsumsi, yang kedua adalah untuk mengatur industrinya, dan yang ketiga adalah penerimaan negara," kata Sri Muyani.