Wajah Almarhum Pak Habibie Senyum

Alee/Antara
Wajah Almarhum Pak Habibie Senyum
Istimewa

Mantan Presiden BJ Habibie telah tiada. Banyak tokoh nasional memberikan kesan-kesan terhadap sosok yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional tersebut. Berikut kesan-kesan mereka.

Amien Rais, Mantan Ketua MPR: Beliau Tersenyum 

Saat saya melayat dan melihat jenazah beliau bersih, adem, dan senyum. Ini tanda-tanda hamba Allah yang soleh. Semoga Pak Habibie Husnul Khotimah.  Saya tidak pernah lihat hal-hal yang tidak wajar yang dilakukan beliau. Karena beliau mencari dunia dan akherat.

TB Hasanudin, Mantan Ajudan Habibie: Sangat Taat Beribadah

Pak Habibie sangat taat beribadah. Rajin shalat, selalu puasa sunnah dimanapun berada, sekalipun di luar negeri. Selama mendampingi beliau, saya tidak pernah menyaksikan Pak Habibie cekcok dengan Ibu Ainun. Keduanya selalu mesra dan bergandengan tangan. Dan Ibu Ainun itu tidak pernah ikut campur dengan urusan pekerjaan Pak Habibie. Beliau mewariskan iman dan taqwa.

Mahfud MD, Mantan Ketua MK: Berotak Jerman, Berhati Mekkah

Kita telah kehilangan seorang Bapak Bangsa yang sangat membanggakan. Beliau juga menjadi kebanggaan kaum muslimin Indonesia karena ketika orang Islam masih dianggap kolot dia menjadi contoh bahwa orang Islam bisa hebat dan tidak perlu inferior. BJ Habibie adalah ilmuwan muslim yang taat beribadah. Dari sosok dialah lahir ungkapan integrasi 'Iptek dan Imtaq', ilmu pengetahuan dan iman serta taqwa. Habibie dijadikan role model generasi muda Islam dengan ungkapan 'berotak Jerman, berhati Mekkah'. Allahummaghfirlahu warhamhu.

Anies Baswedan, Gubernur DKI: Pers Berhutang Budi

Insan pers berhutang budi pada pak Habibie, karena beliau yang membuka dan membuat kita semua merasakan adanya kebebasan jurnalistik seperti yang kita rasakan hari ini. Bukan saja sebagai bapak demokrasi yang membuka kemandekan soal kehidupan berpolitik di Indonesia, Habibie juga orang yang berjasa membuat dunia pers bebas lewat pengesahan Undang-Undang Pers saat beliau menjabat.

Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR: Pantas Mendapatkan Nobel

Menurut saya, 'fair' kalau orang seperti Pak Habibie mendapatkan hadiah Nobel karena beliau mampu menjaga demokrasi Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, di masa transisi pemerintahan. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun tujuh bulan beliau dapat menyiapkan dengan baik kepemimpinan baru di Indonesia, baik legislatif maupun eksekutif. Beliau juga mampu menyelenggarakan pemilu yang diakui seluruh dunia. Pak Habibie sendiri dipaksa untuk maju menjadi calon presiden saat itu, tetapi dia menolak.

Usia 83 Tahun

BJ Habibie meninggal dunia pukul 18.05 WIB, Rabu 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Kabar tersebut disampaikan Thareq Habibie.

Ketua Tim Dokter Kepresidenan (TDK) Prof dr Azis Rani dalam keterangan resminya menyebut bahwa Habibie masuk RSPAD sejak 1 September 2019.

Ia ditangani tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.

Sebelumnya, Presiden Ke-3 RI ini sempat dirawat di Jerman setelah mengalami kebocoran klep jantung.

Kabar kesehataannya yang menurun membuat sejumlah tokoh negeri ini mengunjungi BJ Habibie di RSPAD Gatot Soebroto.