Desakan Presiden Copot Menteri KLH Siti Nurbaya Makin Kencang

Danial
Desakan Presiden Copot Menteri KLH Siti Nurbaya Makin Kencang
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya

Jakarta, HanTer - Buntut dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menyebabkan kepulan asap menyerbu kampung hingga ke perkotaan, menuai protes dari berbagai pihak.

Seperti yang dilakukan warga Pekanbaru yang kesal dengan kinerja Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, kini didesak mundur dari jabatannya, lantaran dinilai tak mampu menyelesaikan persoalan lingkungan di Indonesia.

Dalam masalah ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga diminta untuk segera memecat pembantunya tersebut.

“Karhutla di Pekanbaru, asapnya meracuni jutaan penduduk di Riau bahkan di Indonesia, itu bukti bahwa Siti Nurbaya gagal menangani lingkungan dan pengelolaan hutan” protes Chenal warga Pekanbaru dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dijelaskannya tiap tahun menjadi momok yang menakutkan bagi semua warga. “Itu semua soal kebijakan, jika Siti tegas dan benar-benar menjalankan perintah Presiden, soal Karhutla ini sudah teratasi dari dulu, ini sudah mau habis masa jabatannya Siti masih tak tuntas-tuntas menyelesaikan persoalaan yang sepele ini,” tegas Chenal.

Lanjut Chenal, Siti harusnya mencontoh pejabat-pejabat beberapa negara yang mau berbesar hati mengundurkan diri karena gagal menjalankan tugasnya.

“Jangan merasa superior, jika sudah gagal mundur dan minta ganti sama yang lebih mampu” ungkapnya.

Guna upaya konfirmasi, wartawan menghubungi Siti Nurbaya, namun nomor handphonenya tidak aktif.

Seperti diketahui sebanyak tujuh provinsi di Pulau Sumatra membara karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ribuan titik panas sebagai indikasi terjadinya kebakaran lahan terpantau satelit yang selalu digunakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru.

Dari tujuh daerah itu, ada tiga provinsi yang dikepung ratusan titik panas indikasi Karhutla. Paling banyak ada di Jambi dengan 504 titik panas, Sumatra Selatan 332 titik, dan Riau 289 titik panas.

"Secara keseluruhan, terdeteksi 1.278 titik panas di Pulau Sumatra," kata staf BMKG Pekanbaru, Gita Dewi Siregar, Senin (9/9/2019).

Selain tiga daerah tersebut, 66 titik panas juga terpantau di Bangka Belitung, 70 titik panas di Lampung, 14 titik panas di Kepulauan Riau, dan Sumatra Barat tiga titik.

Khusus untuk 289 titik panas di Riau, sebut Dewi, tersebar di sembilan kabupaten dan kota. Paling banyak ada di Indragiri Hilir dengan 185 titik panas, berikutnya Pelalawan 57 titik dan Indragiri Hulu 31 titik.