Silahturahmi ke Ponpes, Firli Bantah Langgar Kode Etik

Eka
Silahturahmi ke Ponpes, Firli Bantah Langgar Kode Etik
Irjen Pol. Drs. Firli Bahuri menghadiri undangan beberapa tokoh di NTB (ist)

Jakarta, HanTer - Sepuluh nama calon pimpinan komisi pemberantasan korupsi (Capim KPK) kini sedang digodok dalam sidang paripurna DPR usai diberikan presiden Jokowi, 4 September lalu.

Satu dari sepuluh nama capim tersebut adalah Irjen Firli Bahuri. Selangkah lagi, Kapolda Sumatera Selatan ini akan menjadi satu dari lima pimpinan (komisioner) KPK jika lolos uji kelayakan dan kepatutan DPR.

Meski demikian, Firli belum bisa duduk santai menunggu uji kelayakan dan kepatutan yang akan diberikan DPR, pasalnya hingga hari ini pencalonannya tersebut masih terus ditentang oleh beberapa kalangan perihal beberapa kasus yang ditudingkan kepadanya.

Yang paling santer adalah pertemuannya dengan Tuan Guru Bajang (TGB) yang saat itu tengah berperkara di KPK dalam beberapa kesempatan.

Bahkan pertemuannya dengan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut sempat diabadikan dalam sebuah foto.

“Pertemuan itu sudah diklarifikasi 5 pimpinan KPK di ruang rapat pleno pimpinan lantai 15 gedung merah putih,” terang Firli di Jakarta.

Lebih lanjut, mantan ajudan Wapres Boediono ini mengatakan, pertemuannya dengan TGB itu tidak pernah direncanakan.

Dia hanya memenuhi undangan-undangan yang diberikan kepadanya. Salah satunya adalah dari Ketua PWNU NTB TGH Masnun Tahir yang juga dihadiri oleh TGH Lalu Turmudzi Badaruddin di Pondok Pesantren Al Mansyuriah Bonder Lombok Tengah.

“Kalau diundang tapi tidak datang bukankah saya justru dianggap tidak beretika karena tidak menghargai undangan sesepuh NU?,” tanya Firli kepada wartawan di Jakarta.

Jenderal Polisi bintang dua ini menegaskan, pelanggaran kode etik yang ditujukan kepadanya saat masih menjadi Deputi Penindakan di lembaga antirasuah tersebut sangat tidak beralasan.

Justru menurutnya, jika tidak memenuhi undangan tersebut hal itu dapat menyinggung kultural NU.

“Saya datang ke pondok pesantren bukan hal yang tabu. Masa iya silahturahmi ke ponpes (pondok-pesantren) dianggap melanggar kode etik,” ujar Firli.

Kapolda Sumatera Selatan ini sekali lagi menegaskan, tidak ada keistimewaan apapun untuknya.

Seperti capim lainnya, dia mengikuti semua tes dan uji kelayakan yang diberikan panitia seleksi calon pimpinan KPK (Pansel Capim KPK) dan lolos hingga masuk 10 besar capim KPK.

#Firli   #ponpes   #kunjungan   #ntb   #capimkpk