TAJUK: Pembunuhan Sadis Yang Dilakukan Keluarga Terdekat

***
TAJUK: Pembunuhan Sadis Yang Dilakukan Keluarga Terdekat
Ilustrasi (ist)

Miris dan memprihatinkan. Itulah yang disampaikan publik menyusul terjadinya beberapa kasus pembunuhan sadis yang dilakukan anggota keluarga terdekat. Teranyar, istri membunuh dan membakar jasad  suami dan anak tirinya gara-gara sang istri terlilit utang miliar rupiah.

Hingga saat ini, kasus pembunuhan ini masih menjadi pembicaraan hangat dan ramai di masyarakat. Aulia Kesuma (45), pelaku pembunuhan dan pembakar jasad suaminya Edi Chandra Purnama alias Pupung (54) dan anak tirinya M Adi Pradana alias Dana (23) karena motif ekonomi. Aulia diketahui terbelit utang sebesar Rp10 miliar di dua bank. 

Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada Jumat 23 Agustus 2019, setelah sebelumnya tersangka meminta tolong kepada pembantunya untuk dicarikan eksekutor untuk membantu membunuh suaminya. Aulia kemudian memulai aksinya dengan mencampurkan obat tidur jenis Vandres sebanyak 30 butir ke jus yang biasa diminum Edi.

Tak hanya itu, belakangan kasus pembunuhan sadis yang dilakukan keluarga terdekat, ayah bunuh anak, anak bunuh ayah. Juga suami menghabisi nyawa istri, begitu sebaliknya.

Tersangka Sari Isa (42) tega membunuh  suaminya, Thenzeko Nduru, di Afdeling A Perkebunan Sawit PT SAK Muaro Timpeh Nagari Muaro Sopan, Kecamatan Padang Laweh, Sumatera Barat.

Terungkapnya kasus pembunuhan itu berawal dari laporan saudara korban, Bazisokhi Nduru atau Yaman, ke Satreskrim Polres Dharmasraya pada 1 September 2019.

Di Kramatjati, Jakarta Timur, polisi menduga tersangka berinisial JU (43) membunuh istri dan membakar rumahnya di Kramat Jati, Jakarta Timur, karena masalah ekonomi rumah tangga.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, JU dan istrinya KH sempat cekcok mulut terkait masalah ekonomi, kemudian pelaku kesal dan memukuli wajah korban dengan batu dan menusuknya dengan gunting. Setelah melakukan perbuatan tersebut, lanjut Argo, pelaku pun berupaya membakar diri dan berniat kabur melalui jendela rumahnya.

Sedangkan di Bekasi, anak tega menghabisi nyawa ayahnya hanya gara-gara dia kesal ayahnya tidur mengorok.

Pembunuhan sadis dan bidab yang dilakukan anggota keluarga terdekat terus terjadi. Tentu saja kita miris melihat peristiwa ini. Apa yang menyebabkan seseorang melakukan pembunuhan? Padahal orang itu tahu bahwa membunuh orang lain dengan alasan apapun adalah salah dan bisa berujung masuk sel. 

Alasan seseorang melakukan pembunuhan ada juga karena dibayar atau sering disebut sebagai pembunuh bayaran. Ada juga dengan alasan cemburu seseorang tega membunuh kekasihnya sendiri.  Faktor lainnya karena stress, gangguan kejiwaan, balas dendam/sakit hati, mabuk, dan masalah harta. Bahkan melakukan pembunhan karena-hal sepele, seperti sang ayah tidur mengorok, seperti yang terjadi di Bekasi.

Kalangan sosiolog menyebut, maraknya pembunuhan sadis disebabkan karena bentuk perwujudan masyarakat yang sedang sakit. Sakit karena kesulitan ekonomi, sehingga membuat seseorang mengalami stress, emosi, dan depresi. Hal ini biasa terjadi pada masyarakat kalangan bawah.  Akibat depresi itu karena belum mendapatkan pekerjaan dan putus cinta, memicu melakukan tindakan sadis.

Sosiolog Prof Dr Musni Umar mengemukakan, maraknya kasus pembunuhan  sadis diduga  juga karena lemahnya peran pranata penyelesaian konflik dalam hubungan sosial maupun domestik. 

Ya,  faktor sosial  seperti  kemiskinan, kecemburuan sosial, tidak saling menghargai, dan tersepelekannya hak-hak asasi manusia, menjadi  penyebab utama terjadinya kriminalitas dan maraknya pembunuhan sadis. Untuk mengurangi tindak kriminalitas, selain meningkatkan kesejahteraan rakyat, hukum harus ditegakkan dengan tegas, adil, dan benar.  

Melihat kini banyaknya pembunahan sadis, Psikolog Klinis Forensik, Dra. A. Kasandra Putranto mengemukakan,  banyak faktor yang melatarbelakangi motif pelaku untuk menghabisi nyawa korban. Biasanya terkait motif ekonomi, dendam, asmara dan sebagainya. 

Banyak berita beredar bagaimana orang yang tega berbuat kejam, dan tak segan membunuh secara sadis. Pernah kita dengar kasus mayat dicor di tembok, kasus mutilasi, bunuh anak sendiri, dan banyak lagi. Melihat fenomena itu, Kasandra memastikan bahwa ada profil psikologis pelaku yang "bermasalah". 

Semua jenis pembunuhan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain adalah perbuatan sadis. Yang membedakannya ada dua, pertama adalah faktor kesengajaan atau spontan dan kedua itu adalah faktor perencanaan. Semakin terbukti bahwa ada unsur perencanaan, semakin sadislah pembunuhan tersebut," bebernya.

Menurutnya, berbagai faktor yang ditengarai bertanggung jawab atas penyebab seseorang tega membunuh secara kejam. Ada dari faktor masa kecil, pola asuh, lingkungan, situasi dan kondisi yang secara mandiri atau bersama sama mempengaruhi fungsi otak pelaku yang mendorongnya melakukan tindakan pembunuhan, antara lain kematangan, stabilitas emosi, keterampilan sosial, kemampuan kendali diri, hingga dorongan agresivitas.

Pelaku dan siapa saja yang melakukan kekerasan secara sadis, patut dijatuhi hukuman berat agar menjadi efek jera.

Setelah peristiwa ini hendaknya warga agar terus meningkatkan kewaspadaan, baik di lingkungan rumah sendiri maupun di lingkungan tetangga.