LGBT Sangat Ditentang Mayoritas Masyarakat Indonesia

Danial
LGBT Sangat Ditentang Mayoritas Masyarakat Indonesia
Anggota Panja RUU KUHP DPR RI, Teuku Taufiqulhadi dalam Diskusi Forum Legislasi, tema "RUU KUHP Kebiri Kebebasan Pers?" di Media Center MPR/DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan bersama Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar dan Moderator: Kiswondari Wartawan Koran Sindo, Selasa (3/9/2019).

Jakarta, HanTer - Anggota Panja RUU KUHP DPR RI, Teuku Taufiqulhadi mengatakan negara Indonesia adalah masyarakat yang beragama dan taat menjalankan perintah, jadi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual (LGBT) sangat ditentang oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

"Kita mempertimbangkan faktor-faktor LGBT dan sebagainya, kenapa? Seperti kita bilang tadi, karena  negara kita adalah negara religius,  jadi tidak bisa perspektif HAM itu saja yang kita lihat," ujar Taufiqulhadi dalam Diskusi Forum Legislasi, tema "RUU KUHP Kebiri Kebebasan Pers?" di Media Center MPR/DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan bersama Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar dan Moderator: Kiswondari Wartawan Koran Sindo, Selasa (3/9/2019).

Taufiqulhadi menjelaskan, kemudian soal pencabulan yang juga bisa dilakukan antara seorang dewasa dengan anak kecil. Pencabulan juga bisa dilakukan dengan antar sejenis antara laki-laki di depan umum dan itu semua akan dikenakan pidana dan tidak disebutkan tentang LGBT  tetapi sudah masuk unsur disitu.

"Jadi disitulah cara kita mempertimbangkan tentang masuknya perspektif Gender, HAM dan sebagainya," beber anggota DPR dari Partai NasDem ini.

Selain itu, adalah hukuman mati,  lanjut Taufiqulhadi, juga masuk perspektif, karena agama masih mengatakan bahwa persoalan hukuman mati itu sebagai sebuah keyakinan.

"Tetapi kemudian kita membuat di sana sedemikian rupa, sehingga hukuman mati itu tidak mudah karena memang sangat selektif , sepeti itulah dan itu undang-undang kita. Apakah itu akan mengganggu demokrasi dan kebebasan pers dan sebagainya, menurut saya tak akan terjadi," ulasnya.

Kecuali, lanjut Taufiq misalnya pers itu menganggap, misalnya dia tak mengerti dimana masalah, lantas kemudian etika pers itu lagi, misalnya menganggap kalau itu menyiarkan persidangan kasus sianida itu dianggap tepat.

"Maka ketika kita mengatakan itu tak boleh maka dianggap itu meniadakan kebebasan pers. Itu barangkali bisa terjadi. Jadi dalam konteks kita berbangsa, kita dudukan secara tepat, jadi demokrasi itu, dia akan berjalan apabila dia ada ketertiban," ungkapnya.

"Insya Allah kita akan mengesahan undang-undang RUU KUHP, kalau ini menjadi undang-undang maka ini adalah merupakan sebuah produk bangsa kita sendiri setelah kita menjadi bangsa yang berdaulat, kita membentuk undang-undang Pidana sebagai konsttitusi pidana kita, hukum pidana," pungkas Taufiqulhadi.

Sementara itu Pengamat Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatakan, soal RUU KUHP dalam kaitannya dengan kebebasan Pers, intinya RUU tetap akan disahkan.

"Tekanannya pada pertimbangan bahwa kita punya undang-undang sendiri, tadi disebut berlandaskan ketuhanan dan sebagainya. Tetapi sebenarnya, kalau lihat isi pasalnya juga terjadi beberapa hal, umpamanya ada demokratisasi hukum pidana, ada tindak pidana- tindak pidana yang sebenarnya sebagai elemen demokrasi," ujarnya.

Menurut Abdul Fickar, juga umpamanya bagaimana orang punya hak mengekspresikan pendapatnya dan pikirannya, tapi kalau itu sampai ujrannya itu menimbulkan kebencian pada orang lain misalnya undang-undang ini mengatakan itu ada larangannya.

"Demikian juga undang-undang ini sebenarnya juga kalau pidana ini, kalau dilihat isinya, dia konsolidasi dari beberapa undang-undang,  masuk di situ ada undang-undang korupsi, undang-undang narkotika, undang-undang terorisme juga masuk, artinya bahwa undang-undang ini akan menjadi sebuah kumpulan hukum pidanan secara menyeluruh, meskipun ada juga yang menjelaskan bahwa dengan masuknya undang-undang khusu itu tidak akan melemahkan undang-undang yang khusus itu," paparnya.