TAJUK: Kenapa Kecelakaan Maut di Jalan Tol Terus Berulang?

***
TAJUK: Kenapa Kecelakaan Maut di Jalan Tol Terus Berulang?

Kecelakaan beruntun kembali terjadi di tol Cipularang. Kali ini terjadi di Kilometer 91 arah Jakarta. Kecelakaan yang terjadi Senin (2/9/2019) itu 
menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan 24 luka-luka.

Perwira Urusan Humas Polres setempat, Ipda Tini Yutini mengemukakan, 
dari delapan korban yang meninggal dunia, ada yang meninggal akibat mengalami luka bakar dan ada juga yang meninggal di tempat kejadian. 

Sebelumnya kecelakaan beruntun terjadi di Tol Cipali KM 150.900 B, Senin (12/6/2019) dinihari yang menewaskan 12 orang dan puluhan lainnya luka-luka.

Kenapa kecelakaan di jalan tol sering terjadi? Para pengamat transportasi menyebutkan, tingginya angka kecelakaan di tol disebabkan oleh tiga faktor, yaitu kultur berkendara, faktor teknis kendaraan, dan faktor infrastruktur jalan. 

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi dalam konferensi pers di Jakarta, menuturkan secara geometrik kondisi jalanan di Tol Cipularang KM 91 arah Jakarta juga turunan dan cekungan, jadi banyak pengendara yang sulit mengendalikan laju kendaraan.

Menurutnya, hasil dari identifikasi awal itu akan ditindaklanjuti dengan kajian agar kejadian kecelakaan maut itu tidak terjadi lagi, mengingat banyak kecelakaan yang terjadi di ruas tol tersebut.

Terkait kecelakaan itu, Kemenhub akan mengevaluasi aturan terkait kecepatan saat melaju di jalan tol apabila diperlukan. Saat ini batas kecepatan kendaraan melaju di jalan tol yakni 60-100 kilometer. Dikatakan, pengawasan kecepatan laju kendaraan kewenangannya di kepolisian.

Menurut catatan, daerah di ruas tol Cipularang yang rawan kecelakaan adalah sepanjang kilometer 90 sampai dengan kilometer 100, di mana sepanjang 10 kilometer tersebut, arus dari arah Jakarta mengalami tanjakan panjang dan arus sebaliknya mengalami turunan panjang.

Di dalam 10 kilometer tersebut, setiap tanjakan panjang dan curam biasanya terdapat penambahan lajur untuk truk dan bus yang berjalan lambat.

Jalan Tol Cikampek - Purwakarta - Padalarang (disingkat Cipularang) adalah jalan tol yang melintasi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bandung Barat.

Melalui tol ini, jarak Jakarta-Bandung hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit (jika tidak macet) dan dihitung dari Cawang.

Sejak dioperasikan pada 26 April 2005, jalan di tol Cipularang telah dua kali amblas yaitu di KM 91,6 wilayah Pasir Honje, Purwakarta yang terjadi 28 November 2005. Selanjutnya amblas di KM 96,8 dari arah Jakarta menuju Bandung, tepatnya di Kampung Lebak Ater, Kecamatan Darangdan, Purwakarta.
 
Seringnya terjadi kecelakaan maut dan memakan korban jiwa, bahkan Tol Cipularang ini mengilhami sejumlah sineas untuk memproduksi film bergenre horor, seperti Film KM 97 yang pada 21 Maret 2013.

Untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan beruntun di ruas Tol Cipularang., Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) harus segera turun menyelidikinya. Hasil penyelidikan harus diumumkan ke public agar menjadi pembelajaran dikemudian hari.  Juga bisa diambil langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kecelakaan maut yang menelan banyak korban.

Tindakan antisipatif dari pihak-pihak terkait–selain tentu saja persiapan kondisi kendaraan dan kehati-hatian pengemudi–harus segera dilakukan jika tidak ingin darah kembali membasahi aspal Cipali.

Seringnya kecelakaan akibat sopir mengantuk dan kondisi fisik kendaraan seperti rem blong yang selama ini dijadikan penyebab kecelakaan, semakin menunjukkan perusahaan pemilik bus tidak mempunyai sistem manajemen keselamatan yang baik, atau tidak pernah memantau unsur-unsur penting kendaraan seperti sistem rem dan pengemudinya.   

Perawatan berkala baik harian maupun bulanan mungkin saja tidak dilaksanakan perusahaan bus. Padahal perawatan berkala sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi bus. 

Ke depannya, sistem pengaturan dan pengawasan terhadap bidang transportasi angkutan darat, seperti  bus harus dilakukan secara ketat. Pasalnya, faktor teknis kendaraan cukup mendominasi pada setiap kecelakaan bus selain faktor sopir bus mengantuk.

Kecelakaan maut yang terjadi berulang-ulang di jalan tol harus menjadi momentum bagi perusahaan angkutan umum untuk berbenah diri. Juga harus menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk industri angkutan umum darat di Indonesia. Intinya pembenahan angkutan umum  harus dilakukan segera, jangan menunggu adanya korban jiwa terlebih dahulu. Juga perlunya pengawasan ketat terhadap kecepatan lajku kendaraan di jalan tol, terutama di jalan yang tanjakan tajam dan curam.