Hukuman Kebiri Bagi Predator Seks Disambut Positif

***
Hukuman Kebiri Bagi Predator Seks Disambut Positif
Ilustrasi (ist)

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mojokerto menjadi yang pertama di Indonesia menerapkan pemberatan hukuman dengan pidana kebiri kimia bagi pelaku kekerasan seksual pada anak. Hukuman diberikan terhadap terpidana Muhammad Aris. Aris juga dihukum penjara 12 tahun dan denda Rp100 juta subsider enam bulan kurungan.

Terpidana Muhammad Aris, warga Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto divonis bersalah oleh PN Mojokerto karena terbukti mencabuli sembilan orang korban yang masih anak-anak.

Berbagai kalangan mengapresiasi hukuman tambahan pengebirian tersebut, antara lain Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Menurutnya, hukum kebiri terhadap terpidana kejahatan seksual karena sudah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016.

Aturan mengenai kebiri kimia terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap anak diatur dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dukungan juga diberikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise. Menurutnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tidak menoleransi segala bentuk kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak.

Yohana memuji putusan hakim Pengadilan Negeri Mojokerto atas pemberlakuan hukum pidana tambahan berupa pidana kebiri kepada Aris. Menurut dia, instrumen hukum untuk melindungi dan memberikan keadilan bagi korban anak dalam kasus kekerasan seksual sudah seharusnya digunakan aparat penegak hukum.

Yohana dan Nila menyampaikan bahwa semua pihak harus menghormati keputusan Pengadilan Negeri Mojokerto yang menjatuhkan hukuman tersebut kepada terpidana.

Kita sepakat dan yakin hukuman dikebiri sebagai pemberatan hukuman pelaku kekerasan seksual pada anak dapat mengurangi kasus kekerasan anak. Hukuman tersebut bisa memberikan efek jera kepada predator  seks ditambah dengan diterapkan sanksi sosial yakni menyebarluaskan serta menempel foto-foto pelaku di tempat-tempat umum.

Sampai saat ini sudah ada beberapa negara yang menetapkan hukuman suntik kimia kebiri seperti Turki, Korea Selatan, beberapa engara di Amerika, Polandia, dan Jerman. Bahkan di Inggris pakai chip kepada pelaku untuk bisa dikontrol pergerakannya.

Sejak 2013 Komnas Perlindungan Anak menyatakan, Indonesia darurat kekerasan pada anak khususnya kekerasan seksual. Hal ini karena angka kekerasan anak dan jumlah kasus terus meningkat, dengan cara yang sangat biadab dan sadis serta dilakukan oleh orang-orang terdekat. Apalagi selama ini ada kesan, penegakan hukum terhadap pelaku sampai saat ini tidak adil.

Untuk mencegah dan memberikan efek jeramonster-monster seksual itu, berbagai kalangan mengusulkan agar pelakunya diberikan hukuman mati.Ada juga yang mengusulkan diberikan hukuman pengebirian syaraf libido atau hukuman suntik kimia kebiri.

Kita memberikan apresiasi terhadap keputusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mojokerto yang memberikan hukuman kebiri untuk pertama kalinya di Indonesia. Hendaknya hakim-hakim lain bisa melakukan hal sama agar predator seks bisa jera.

Untuk mencegah terjadi kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak, seluruh komponen bangsa harus berperan aktif, terutama para orangtua. Orangtua harus memberikan perlindungan terhadap anak-anaknya.  Orangtua harus melakukan penjagaan dan pengawasan maksimal untuk melindungi anak dari kejahatan seksual. Selain itu,  para orangtua memberikan pengetahuandan pendidikan  seks sejak dini untuk melindungi anak-anak dari tindak kejahatan asusila. 

Terpenting adalah, orangtua juga perlu memberi tahu anak tentang adanya penjahat seksual yang mungkin banyak berkeliaran di tempat-tempat umum.  Beri pengetahuan pada anak ciri-ciri dan sepak terjang para penjahat itu. Selanjutnya, orangtua harus peka melihat perubahan perilaku sehari-hari anak. Kondisi keseharian anak harus diketahui orang tua, tidak boleh masa bodo.