Sidang Perkara Penipuan, Hakim Pertanyakan Uang Rp61 Miliar yang Diterima Terdakwa 

Safari
Sidang Perkara Penipuan, Hakim Pertanyakan Uang Rp61 Miliar yang Diterima Terdakwa 
Sidang perkara penipuan yang diduga dilakukan pasangan suami - istri Susiliawati Muryani Berlian dan H. Wahyu Widi Handoko memasuki babak baru

Jakarta, HanTer - Sidang perkara penipuan yang diduga dilakukan pasangan suami - istri Susiliawati Muryani Berlian dan H. Wahyu Widi Handoko memasuki babak baru. Sidang perkara penipuan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat tersebut mulai mengorek uang puluhan milyar rupiah yang diterima terdakwa namun ternyata tidak disetorkan ke para korban.

Hakim Ketua PN Jakarta Pusat sempat bertanya kemana uang yang disetorkan oleh kontraktor yakni PT. Anugerah Citra Abadi dalam pengerjaan proyek  pembangunan sarana Penunjang  Operasi Tower A dan Tower B, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Hakim juga menanyakan apakah ada proyek lain sehingga hak-hak dari para korban tidak dibayarkan. 

"Saudara terdakwa, apakah ada proyek lain," tanya Hakim di PN Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2019).

Kedua terdakwa yakni Susiliawati Muryani Berlian dan H. Wahyu Widi Handoko tidak bisa menjawab secara jelas terkait pertanyaan Hakim. H. Wahyu Widi Handoko hanya menjawab ada proyek lain yang bermasalah sehingga membuat pembayaran kepada para korban terkendala atau gagal bayar. Wahyu juga mengakui pihaknya membayar kepada para korban dengan giro kosong.

"Tidak dibayar karena proyek kurang kondusif sehingga gagal bayar," ujarnya singkat.

Hakim kembali mencecar kedua terdakwa apakah ada pihak lain yang membuatnya tidak membayar kepada para korban. Namun kedua terdakwa tetap bersikukuh tidak ada pihak lain yang membuatnya gagal bayar kepada para korban. Wahyu hanya menjawab tidak bisa membayar karena salah mengatur keuangan di perusahaannya.

"Tidak ada pihak yang membantu di belakang," paparnya.

Sidang kali ini menghadirkan tiga saksi yakni Alia Zaenah Al Bugis, pegawai Bank Mandiri,  Zaki Mubarok dan Mulyadi, keduanya dari kontaktor. Saksi Alia Zaenah mengakui ada transaksi yang dibayarkan kontraktor ke rekening milik Susi dan Wahyu. Sementara kedua saksi dari kontraktor mengakui telah membayarkan sejumlah uang yang telah disepakati dalam pembangunan proyek pembangunan sarana Penunjang  Operasi Tower A dan Tower B, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur.

Usai sidang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rosmalina Sinaga mengatakan, dalam berkas perkara memang tidak ada pihak lain yang membantu kedua terdakwa. "Menurut berkas perkara yang saya baca tidak tergambar ada orang lain di belakang kedua terdakwa. Kalau dalam berkas tidak ada pihak lain. Tapi saya belum tahu itu asli murni berdua atau ada pihak lain," ujarnya.

Sementara itu Aldi Surya Kusumah, kuasa hukum Tan Herry Sutanto tetap menduga ada pihak lain yang membantu kedua terdakwa dalam melakukan penipuan. Apalagi kedua terdakwa mengakui perusahaan yang dibentuknya baru berdiri pada tahun 2017. Tapi dalam beberapa bulan berikutnya mendapatkan proyek yang nilainya sangat fantastis yakni mencapai Rp63 miliar.

"Jadi amaf mustahil proyek - proyek yang didapat kedua terdakwa tanpa ada pihak lain. Karena banyak PT yang berdiri puluhan tahun belum tentu mendapatkan proyek yang nilainya fantastis itu," tegasnya.

Atas kejanggalan itu, sambung Aldi, maka pihaknya akan melaporkan kembali kedua terdakwa ke polisi. Karena saat ini ada tiga korban yang nasibnya sama dengan Tan Herry Sutanto. Dalam laporan nanti juga akan disertakan laporan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan kedua terdakwa. Laporan ke polisi terhadap kedua terdakwa akan dilakukan secepatnya.

"Kami masukan TPPU untuk mengetahui uangnya dikemanakan," jelasnya.

Perkara ini bermula ketika PT. Rekacipta Inti Karya mendapatkan kontrak kerjasama dengan PT. Anugerah Citra Abadi (sebagai Kontraktor Utama) dalam pengerjaan proyek  pembangunan sarana Penunjang  Operasi Tower A dan Tower B, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Untuk melaksanakan pengerjaan terhadap proyek tersebut maka pada sekitar bulan Juni tahun 2017  terdakwa Susi dan terdakwa Wahyu mendatangi Toko PD Surya Logam milik Tan Herry  Susanto untuk membeli bahan bangunan yang diperlukan dalam proyek tersebut.

Sebelumnya kedua terdakwa adalah pelanggan setia Tan Herry. Sehingga kedua terdakwa berjanji untuk melakukan pembayaran setelah barang dikirim oleh saksi korban, maka kedua terdaktwa mengatakan akan langsung melakukan pembayaran kepada saksi korban dan dijanjikan juga oleh kedua terdakwa kepada saksi korban uangnya akan ditransfer sesuai invoice kerekening Tan Herrry yakni Rp11,9 miliar.

Namun setelah dicairkan oleh Tan Herry, ternyata seluruh Giro tersebut ditolak oleh pihak bank dengan alasan dana tidak ada. Atas kejadian tersebut Herry melakukan pengecekan proyek tersebut dan bertemu dengan pihak PT. Anugerah Citra Abadi (H. Zakki Mubarokh) sebagai kontraktor utama, mengatakan proyek yang dimaksud telah selesai dan pihak PT.Anugerah Citra Abadi telah melakukan pembayaran  secara lunas kepada PT. Rekacipta Inti Karya melalui kedua terdakwa. Atas perbuatannya Susi dijerat pasal  378 Jo 55 ayat 1 ke 1 Jo pada 64 ayat 1 KUHP ancaman hukuman 5 tahun. Dan Wahyu dijerat pasal 372 Jo 55 ayat 1 ke 1 Jo pada 64 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun.