Untuk Membuat Warga Binaan Tenang, Lapas Kelas 1 Cipinang Terapkan Manajemen Kekeluargaan

Safari
Untuk Membuat Warga Binaan Tenang, Lapas Kelas 1 Cipinang Terapkan Manajemen Kekeluargaan
Kepala Lapas Klas 1 Cipinang Hendra Eka Putra

Jakarta, Hanter - Meski baru beberapa bulan menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur, sejumlah perubahan sudah dilakukan Hendra Eka Putra Amd.IP. SH. MH di Lapas yang dipimpinnya.

Begitu dilantik sebagai Kalapas, ia langsung membuat berbagai gebrakan dan perubahan, di antaranya menetapkan kawasan bebas pungutan liar (pungli) bagi pengunjung yang bertamu di Lapas Kelas 1 Cipinang.

Bahkan untuk tamu yang difabel juga tidak akan kesulitan ketika akan berkunjung. Berbagai alat pendukung atau peralatan seperti kursi roda telah siap siaga untuk digunakan tamu yang memiliki keterbatasan fisik atau difabel. Semua itu dilakukan guna memberikan pelayanan terbaik untuk tamu maupun warga binaan.

Mantan Kalapas Pasir Putih, Nusakambangan ini melakukan suatu

pendekatan secara kekeluargaan terhadap warga binaan agar tidak terjadi konflik. Baik antar warga binaan maupun antar sipir. Juga agar saling bersilaturahmi di dalam Lapas.

Hendra mengaku pihaknya menganut pendekatan berupa Manajemen Keluarga agar tidak terjadi masalah di Lapas Kelas 1 Cipinang. Apalagi kapasitas warga binaan di Lapas Kelas 1 Cipinang juga sudah overload atau kelebihan kapasiitas.

"Dengan kapasitas 850 penghuni yang saat ini diisi 4.500 warga binaan, kkita harus cerdas lewat manajemen keluargaan untuk membuat warga binaan menjadi tenang. Karena ketika sudah masuk lapas akan banyak konflik kepentingan. Makanya kita terapkan pelayanan prima. Yang sakit kita bawa ke rumah sakit Pengayoman. Semua pelayanan tanpa dipungut bayaran alias gratis," ujar Hendra kepada Harian Terbit, Selasa (13/8/2019).

Ayah empat anak kelahiran Padang, 43 tahun silam tersebut juga mengungkapkan, pihaknya juga memberikan berbagai bantuan, antara lain beras kepada warga binaan. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada warga binaan. Untuk perayaan Idul Adha kemarin, pihaknya juga memotong hewan kurban berupa 7 ekor sapi dan 31 kambing. Seluruh warga binaan makan bersama-sama menikmati hewan kurban.

Bebas Bersyarat

Selain itu pemberian bebas bersyarat juga akan diberikan kepada warga binaan yang berperilaku baik. Sementara untuk narapidana yang diputus hukuman mati namun berperilaku baik juga akan diubah hukumannya menjadi seumur hidup, tentu sesuai ketentuan dan hukum yang berlaku. Saat ini ada 16 napidana yang telah diusulkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk dirubah dari hukuman mati menjadi seumur hidup.

"Mengusulkan ke Presiden untuk bebas dari hukuman juga ada," ungkapnya.

Kerajinan Tangan

Hendra juga memaparkan, ada banyak kegiatan yang dilakukan warga binaan Lapas Kelas 1 Cipinang untuk mengisi waktu. Di antaranya membuat kerajinan tangan untuk hiasan rumah seperti bunga, replika sepeda motor, sepeda atau mobil. Kerajinan tangan tersebut ada yang berbahan daur ulang atau plastik. Kerajinan tangan tersebut bahkan telah dijual di luar dengan kisaran harga ratusan ribu rupiah.

"Konsep rumah kita untuk kita. Makanya warga binaan kita arahkan membuat kegiatan. Ada yang membuat vas bunga, batik ada juga yang membuat robot-robot dan lainnya," paparnya.

Hendra juga memaparkan, Lapas Kelas 1 Cipinang yang masuk sebagai salah satu Satuan Kerja dalam Strategi Nasional (STRANA) Zona Integritas menuju WBK dan WBBM telah mengikuti kegiatan penilaian yang dilakukan oleh Tim dari Inspektorat sebagai Tim Penilai Internal (TPI) Kementerian Hukum dan HAM RI. Hal tersebut dilakukan agar ada banyak inovasi dalam memberikan pelayanan.

"Inovasi tentang pelayanan kunjungan yang cepat, tepat, dan efisien. Pelayanan publik yang kami selenggarakan dijamin bebas pungli. Apabila ditemukan oknum petugas yang menerima atau bahkan meminta imbalan segera laporkan. Kami punya banyak sarana aduan yang bisa diakses oleh masyarakat baik melalui Facebook, instagram, Twitter, ataupun SMS laporan. Semua laporan akan kami tindak lanjuti tanpa kecuali," tegasnya

Sementara untuk membuat Lapas Kelas 1 Cipinang tidak kelebihan kapasitas, saat ini pihaknya telah mengusulkan kepada Kemenkumham untuk melakukan renovasi gedung. Anggaran yang diusulkan untuk renovasi sekitar Rp55 miliar. Rencananya gedung untuk menampung warga binaan akan dibuat bertingkat. Pilihan gedung bertingkat dilakukan karena keterbatasan lahan yang dimiliki Lapas Kelas 1 Cipinang.

Antisipasi lain untuk mengatasi kelebihan kapasitas adalah memindahkan sejumlah napi ke lapas lainnya seperti ke Lapas Tangerang, Banten. Sementara untuk meningkatkan pengetahuan warga binaan pihaknya membuka perkuliahan untuk jurusan hukum. Sehingga ketika nanti bebas dari hukuman bisa menjadi kuasa hukum bagi teman-temannya yang masih mendekam di Lapas Kelas 1 Cipinang.

"Antisipasi masuknya narkoba, kita juga punya body scanner yang tujuannya untuk memantau tamu-tamu atau sipir yang masuk ke Lapas Kelas 1 Cipinang," jelasnya.

#Lapas   #cipinang   #napi