Demokrasi Saat Ini Lebih Menunguntungkan Para Elite

Danial
Demokrasi Saat Ini Lebih Menunguntungkan Para Elite
Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera pada Dialog Kenegaraan “Langkah Demokrasi Republik Indonesia Setelah Usia ke-74” bersama Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono dan Margarito Kamis di Media Center/Pressroom, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14//8/19).

Jakarta, HanTer - Anggota DPR RI Mardani Ali Sera mengatakan apabila Pemilu 2019 tak menghasilkan oposisi yang kuat maka naik-turunnya demokrasi bukan berterminologi kepada rakyat tetapi elite.

“Kalau ada oposisi yang kuat akan ada demokrasi yang baik. Kalau 2019 yang tidak menghasilkan oposisi yang kuat, maka konsolidasi demokrasi kita punya catatan,” ujar Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera pada Dialog Kenegaraan “Langkah Demokrasi Republik Indonesia Setelah Usia ke-74” bersama Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono dan Margarito Kamis di Media Center/Pressroom, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14//8/19).

Dijelaskannya demokrasi di Indonesia dalam kondisi turun-naik, tetapi naik turunnya dan cerminan faktornya bukan masyarakat tapi kita elite.

“81persen masyarakat datang ke TPS, ini angka luar biasa tetapi kalau perilaku elit sesudah pilpres, pileg kemarin tiba-tiba menjadi cloud and announced, kalau di ekonomi itu Rent-seeking ekonomi, menjadi pemburu rente, ini menjadi pemburu kekuasaan maka punishment dari publik kuat. Juga (publik) kecewa, frustasi. Dan bisa jadi dia tidak terkelola dengan baik, kedepannya buruk,” paparnya.

Selain itu, menurut Mardani, kualitas demokrasi akan sangat ditentukan oleh perilaku elit. “Karena itu titip pesan saya buat diri sendiri dan semua, etika dan logika itu harus betul-betul etika publik, logika publik kita perkuat dan itu nanti biasa. Istilahnya guru kencing berdiri, murid kencing berlari.Kalau kami berperilaku baik, secara etika dan logika, publik akan mendukung tapi kalau kami berperilaku tidak patut. Mereka jauh lebih buruk lagi dan jangan salahkan masyarakat,” ulasnya.

Sementara itu, Pakar Hukum Tata Negara, Margarito Kamis, membenarkan, apapun yang dilakukan masyarakat didalam berbangsa dan bernegara, itu yang bertanggung jawab adalah para elite politik.

“Kita tidak bisa bicara apapaun mengenai demokrasi, dan saya suka apa yang dibilang bapak Mardani terakhir. Apapun yang mau kita buat, elite yang bertanggung jawab,” ujar Margarito.

Margarito menerangkan, rakyat yang disebut dalam UUD, dan dimana-mana demokrasi rakyat  sebagai komponen utama yang memegang kedaulatan. Tapi di dalam kenyataan, rakyat cuma berdaulat dalam kurang lebih  tiga sampai lima menit. Selebihnya detail-detail berbangsa dan bernegara selesai. Sepenuhnya oleh Elite. Tidak kurang dan tidak lebih dan ditemukan itu dimana pun .

“Tetapi saya mau bilang, kalau kita cek kecenderungan dunia dan kecenderungan yang sedang terjadi di Indonesia hari ini adalah upaya kita sedang  menciptakan super presidensialisme. Bukan sekedar  presidensial,” pungkasnya.