Keakraban Mega-Prabowo Dinilai Bukan Tiba-tiba

Ant
Keakraban Mega-Prabowo Dinilai Bukan Tiba-tiba

Kupang, HanTer - Pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Mikhael Bataona mengatakan, keakraban Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto bukan sesuatu yang tiba-tiba.
 
"Saya kira, keakraban Prabowo dan Megawati harus dibaca sebagai sesuatu yang bukan tiba-tiba saja, karena sebelum Pilpres Megawati sudah mengutus Puan Maharani untuk bertemu Prabowo empat mata," kata Bataona, di Kupang, Jumat.
 
Ia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan hubungan Megawati-Prabowo dan kehadiran Prabowo dalam Kongres PDI Perjuangan 2019, di Denpasar, Bali pada Kamis, (8/8), serta peluang koalisi di 2024.

Pada 2004, Megawati-Prabowo bergandengan tangan dalam pertarungan Pemilu 2004. Saat itu mereka --sebagaimana pasangan-pasangan lain-- kalah dari Susilo Yudhoyono-Jusuf Kalla. 

Menurut Bataona, kehadiran Prabowo di Kongres PDI Perjuangan di Sanur, Bali, jelas memberi pesan politik sangat eksplisit dan tegas, bahwa Prabowo merasa nyaman jika di 2024 bertarung dalam satu koalisi.
 
"Formasinya bisa Prabowo-Puan atau Prabowo-Prananda Prabowo. Jadi hubungan kedua tokoh ini harus dibaca sebagai sesuatu yang bukan tiba-tiba saja," katanya.
 
Ia mengatakan, sebelum Pemilu 2019 berlangsung, Megawati  sudah mengutus Puan Maharani untuk bertemu Prabowo empat mata.
 
Dan saat itu kata dia, pasti sudah terjalin komitmen bahwa Prabowo jika kalah, maka harus siap untuk rekonsiliasi dan membangun kerja sama dengan PDI Perjuangan untuk menghadapi Pemilu 2024.
 
"Jadi apa yang terjadi pascapilpres hingga munculnya Budi Gunawan sebagai mediator pertemuan Jokowi dan Prabowo hingga Megawati dan Prabowo, adalah simbolisme politik yang sangat kuat menjelaskan tentang apa yang akan terjadi di 2024," katanya.
 
Artinya kehadiran Prabowo di Kongres PDIP ini adalah tanda yang kelihatan dari rencana politik yang tidak kelihatan, untuk Pilpres 2024," kata Bataona.