SDGs, Ilmuwan Ilmu Tanah untuk Pembangunan Berkelanjutan

Danial
SDGs, Ilmuwan Ilmu Tanah untuk Pembangunan Berkelanjutan
Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Prof. Budi Mulyanto, MSc dalam Seminar Internasional dan Kongres Himpunan Ilmu Tanah Indonesia di Bandung pada 5-7 Agustus 2019.

Jakarta, HanTer - Ilmuwan ilmu tanah Indonesia harus cepat menyesuaikan diri dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Arahan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Prof. Budi Mulyanto, MSc dalam Seminar Internasional dan Kongres Himpunan Ilmu Tanah Indonesia di Bandung pada 5-7 Agustus 2019.

“Terdapat 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Dari semua tujuan tersebut terdapat tujuan ke-15 untuk melindungi, memulihkan, dan mempromosikan ekosistem lahan di daratan. Itu tugas ilmuwan ilmu tanah,” kata Budi.

 Menurut Budi, untuk menyesuaikan diri ilmuwan ilmu tanah juga harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan teknologi ciber.

“Sistem pendidikan, penelitian, dan penyebaran informasi teknologi yang dihasilkan harus memanfaatkan teknologi internet dan komputasi awan karena banyak menggunakan data besar seperti data dari satelit maupun kecerdasan buatan,” ungkap Budi.

Hanya dengan kemampuan adaptasi itu ilmuwan ilmu tanah dapat turun serta berkiprah dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Bagi Indonesia harapan itu sebuah keniscayaan karena pengembangan sumberdaya lahan merupakan sebuah mandat yang harus diwujudkan. 

“Indonesia memiliki ambisi menjadi lumbung pangan dunia pada 2045. Tanpa upaya mempertahankan lahan dari degradasi, maka tujuan itu tidak akan tercapai. Itu tugas kita bersama-sama,” kata Kepala Badan Sumberdaya Manusia, Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi M.Agr, saat membuka acara seminar tersebut.

Dedi mencontohkan Kementerian Pertanian berupaya menyelamatkan rawa, tetapi di sisi lain tetap memperhatikan kesejahteraan petani rawa melalui program SERASI yaitu Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani. 

“Program tersebut hanya akan berjalan bila strategi yang dilakukan berkelanjutan dengan memahami karakter lahan,” ujar Dedi yang juga merupakan profesor di bidang ilmu tanah.  

Dunia saat ini, menurut peneliti dari Universitas Sydney, Australia, Associate Profesor Damien Field, memang membutuhkan ilmuwan ilmu tanah yang paham betul pentingnya tanah untuk mendukung kehidupan manusia di masa mendatang.

“Di masa lalu tanah hanya dipahami untuk mendukung aktifitas pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan. Saat ini tanah harus dipahami sebagai inti untuk menjawab segala macam persoalan manusia,” kata Damien.

Sebut saja untuk mengatasi krisis air, krisis energi, keanekaragaman hayati, keseimbangan lingkungan, serta perubahan iklim. 

“Ilmuwan ilmu tanah harus mampu menghubungkan ilmu yang dimilikinya untuk menjawab semua persoalan tersebut,” ujar Damien. Dengan demikian ilmuwan ilmu tanah dapat bekerja dengan beragam disiplin ilmu lain dengan pendekatan multidisiplin untuk melindungi lingkungan ini dari degradasi.

Tentu tanggung jawab besar tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Menurut Damien, dukungan dari berbagai pihak dapat diperoleh bila ilmuwan ilmu tanah mampu menggeser paradigma pendidikannya menjadi berbasis pendidikan, riset, industri, dan pembelajaran yang menjangkau banyak pengguna. 

“Di negara maju ilmuwan ilmu tanah berkolaborasi dengan ahli-ahli mulai ahli kesehatan hingga ahli kecerdasan buatan agar dapat membantu menyelesaikan beragam persoalan di dunia,” pungkas Damien.