Kasus Suap Proyek Meikarta; Tiga Saksi Digarap Penyidik KPK

safari
Kasus Suap Proyek Meikarta; Tiga Saksi Digarap Penyidik KPK


Jakarta, HanTer - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa tiga orang dalam kasus suap proyek pembangunan Meikarta.

Ketiga saksi yang diperiksa tersebut terdiri dari Eva, Ali Sadikin, dan Yahya. Ketiganya berasal dari unsur swasta. Mereka diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Iwa Karniwa, Sekretaris Daerah nonaktif Provinsi Jawa Barat.

"Ketiganya akan diperiksa untuk tersangka IWK (Iwa Karniwa, Sekretaris Daerah nonaktif Provinsi Jawa Barat)," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Senin (5/8/2019).

Diketahui, Iwa baru saja ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap proyek pembangunan Meikarta. Penetapan tersebut merupakan pengembangan perkara suap proyek Meikarta sebelumnya.

Dalam kasus ini KPK telah menjerat Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin beserta sejumlah pejabat lain di jajaran Pemkab Bekasi dalam kasus suap Megaproyek milik Lippo Group tersebut.

Sebagai Sekda, Iwa diduga telah menerima suap senilai Rp900 juta untuk pengurusan substansi rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten (RDTR) Pemkab Bekasi Tahun 2017 terkait proyek Meikarta. Saat ini KPK juga telah menggeledah ruang kerja Iwa di Bandung dan menyita sejumlah dokumen.

Selain Iwa, KPK juga menetapkan bekas Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Bartholomeus Toto sebagai tersangka. Bartholomeus diduga menyuap Iwa untuk memuluskan aturan mengenai RDTR. Adanya kebutuhan suap disampaikan oleh bekas Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Neneng Rahmi Nurlaili pada April 2017 lalu.

Didapatkan informasi agar RDTR diproses, maka Neneng Rahmi Nurlaili harus bertemu dengan tersangka Iwa Karniwa. Neneng Rahmi kemudian mendapatkan informasi bahwa tersangka Iwa meminta uang Rp1 miliar untuk penyelesaian proses RDTR di provinsi. Bartholomeus tidak hanya menyuap Neneng Rahmi, namun ia juga memberi duit kepada eks Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin.

Total suap yang diberikan untuk Bupati Neneng mencapai Rp10,5 miliar. Bartholomeus Toto diduga menyetujui setidaknya 5 kali pemberian tersebut kepada Bupati Neneng, baik dalam bentuk dolar Amerika dan rupiah dengan total Rp10,5 miliar.

Atas perbuatannya, Bartholomeus sebagai pemberi suap disangkakan dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 mengenai tindak pemberantasan korupsi.

Sementara Iwa Kurniwa diduga melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 mengenai tindak pemberantasan korupsi. Di dalam pusaran kasus rasuah Meikarta, KPK sudah memproses 9 tersangka lainnya. Dua di antaranya adalah eks Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin dan mantan Direktur Lippo Group Billy Sindoro.