Menteri Muda, Rekonsiliasi atau Balas Budi? Begini Kata Politisi PKB

Danial
Menteri Muda, Rekonsiliasi atau Balas Budi? Begini Kata Politisi PKB
Dialetika Demokrasi bertema 'Menteri Muda, Rekonsiliasi atau Balas Budi’ dengan pembicara Abdul Kadir Karding (Fraksi PKB), Mukhamad Misbhkhun (Golkar) dan Direktur Sinergi Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahudin di Press Room Gedung Nusantara III Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Jakarta, HanTer - Perbaikan fundamental ekonomi, kebersamaan anak bangsa dan Sumber Daya Manusia (SDM) menyongsong era globalisasi menjadi fokus utama periode kedua Pemerintah Presiden Jokowi.

Pembahasan tersebut menjadi perbincangan hangat dalam diskusi Dialetika Demokrasi bertema 'Menteri Muda, Rekonsiliasi atau Balas Budi’ dengan pembicara Abdul Kadir Karding (Fraksi PKB), Mukhamad Misbhkhun (Golkar) dan Direktur Sinergi Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahudin di Press Room Gedung Nusantara III Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Karding mengatakan, menjadi komitmen dan visi Jokowi dalam pidato politiknya di Sentul International Convention Centre (SICC) beberapa waktu lalu, ada tiga visi utama yang harus dijalankan pada era pemerintahan lima tahun ke depan.

"Pertama, secara visi seluruh anak bangsa dapat berperan dan memberi warna menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan. Untuk itu, harus diciptakan SDM yang unggul, mandiri dan kompetitif,” ujar Karding, Kamis (1/8/2019.

Dalam bidang ekonomi, yang perlu digaris bawahi menurut Karding, ada keinginan memperbaiki fundamental ekonomi karena pada lima tahun pemerintahan Jokowi-JK yang sedang berjalan, ekonomi Indonesia jauh dari apa yang diharapkan.

"Langkah-langkah yang perlu diambil terutama mengurangi defisit anggaran, termasuk impor yang begitu besar terutama di bidang energi yang luar biasa dan kebutuhan konsumsi lainnya. Ekonomi hanya tumbuh 5,1 sampai 5,2 persen. Jauh dari apa yang ditargetkan yakni 7 persen. Tantangan lain yang harus diselesaikan adalah persoalan terbelahnya anak bangsa. Bagaimana persatuan anak bangsa ini bisa dirajut lagi, tidak terbelah seperti apa yang terjadi sekarang sehingga ke depan semakin dinamis," paparnya.

Selain itu, soal persatuan anak bangsa goyah karena pemilihan presiden lalu, dimulai dari aksi 212 atau Pilkada zaman Ahok dirasakan betul adanya komunikasi, hubungan atau interaksi sesama anak bangsa yang tidak harmonis.

Sehingga ke depan, bagaimana memperkokoh persatuan. "Cara yang harus ditempuh adalah mengembangkan pemikiran-pemikiran terutama tafsir keagamaan semua agama yang ada di Indonesia. Kalau dalam Islam itu disebut rahmatan lil alamin,” pungkas Karding.