Siapa `Jenderal` Dibalik Kasus Novel?

Safari
Siapa `Jenderal` Dibalik Kasus Novel?

Jakarta, HanTer - Walaupun tidak menyebut nama, pengamat terorisme dan intelijen dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menduga ada Jenderal yang diduga turut terlibat dalam kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. 

Harist pun terkait dugaan keterlibatan jenderal tersebut untuk dibuka di pengadilan. “Oleh karena itu jika pelaku lapangan tertangkap maka seret ke pengadilan dan perlu dibongkar semua dalang dibalik teror terhadap Nove, Kata Harist kepada Harian Terbit, Jumat (12/7/2019).

Harist menyebut ada beragam alasan yang membuat kasus Novel sulit untuk dibongkar. Di antaranya terkait konflik kepentingan. Padahal jika mencontoh kasus teroris yang belum beraksi saja bisa dihendus dan ditangkap polisi. Namun sayangnya ketika jelas-jelas ada pelaku teror yang meresahkan masyarakat tapi tidak ditangkap sehingga pelakunya lenyap bak ditelan bumi. 

"Publik merasakan aneh, janggal dan disana ada konflik kepentingan dari oknum - oknum yang punya kekuasaan dan kekuatan untuk lakukan teror," jelasnya. 

Sebelumnya, anggota Tim Pakar, Prof. Hermawan Sulistyo mengatakan timnya telah memeriksa beberapa perwira tinggi berpangkat bintang tiga atau komisaris jenderal dalam kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel. Pasalnya ada isu bahwa jenderal polisi aktif diduga terlibat kasus ini sehingga Tim Pakar pun memeriksa jenderal-jenderal yang dicurigai terlibat tersebut.

"Dalam kasus ini, ada jenderal-jenderal bintang tiga yang diperiksa. Semua (yang dicurigai) kami periksa lagi," kata Hermawan.

Namun demikian, kata dia, pihaknya enggan menyebut nama para jenderal yang dimintai keterangan oleh Tim Pakar itu. Hermawan mengatakan bahwa semua hasil kerja tim telah disusun dan diserahkan kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk dipelajari. Ada sejumlah temuan dalam investigasi tim terkait kasus ini. Pekan depan, pihaknya akan membeberkan temuan-temuan tersebut ke publik.

Sementara itu, pengamat intelijen dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan, dalam kasus Novel tidak boleh mendahului penyidikan. Namun dalam menuntaskan kasusnya maka tim yang bekerja seperti TGPF tidak boleh dihalangi. Permintaan keterangan oleh TGPF wajar dilakukan untuk mengetahui lebih rinci, apa saja yang sudah dilakukan, temuannya dan kendala-kendala dalam pengungkapannya. 

"Harapannya itu bisa memperjelas situasi. Kita gak usah berprasangka dulu, tapi Komjen Iriawan misalnya, mestinya bisa beri banyak keterangan yang diperlukan," jelasnya.

Khairul mengaku pesimis kasus Novel akan cepat tuntas. Apalagi kasus tersebut sudah berjalan dua tahun tanpa ada kejelasan. Karena logikanya, jika ada pihak yang mempunyai banyak informasi tapi kenapa Polri justru gagal mengungkapnya. Padahal jika ada pihak yang ternyata membuka banyak informasi maka hal tersebut menunjukan bahwa hambatan pengungkapan justru ada di internal Polri sendiri.

Khairul menyebut ada beragam alasan kasus Novel akan sulit diungkap. Apalagi juga pernah menyampaikan ada banyak pihak berkepentingan dalam kasus penyerangan terhadap dirinya. Mereka  tidak ingin kasus Novel menjadi terang benderang dan mungkin saja di antaranya ada di internal Polri sendiri.

"Itu yang harus ditelusuri dan dicari jawabannya oleh tim," ujar Khairul terkait ada pihak yang bermain dalam kasus Novel.

Berantakan

Pengamat kepolisian dari Institut for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto mengatakan, sejak awal kasus Novel sudah berantakan, sehingga tidak ada keseriusan dalam mengusut kasus penyerangan yang dialami Novel. Apalagi dengan berjalannya waktu maka makin rumit untuk mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel yang terjadi dua tahun lalu. 

"Kepolisian punya banyak expert soal penyelidikan dengan berbagai motif kasus, masak dari sekian ribu tak ada yang mampu untuk mengungkap kasus seperti ini," paparnya. 

Bambang menuturkan, jika pun di antara ribuan polisi aktif yang tidak ada yang mampu mengungkap kasus Novel maka bisa meminta para senior polisi yang sudah purna tugas. Karena hingga tiga Kapolda Metro Jaya berganti tidak bisa selesaikan kasus Novel. 

Sebelumnya, mantan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Mochammad Iriawan mengaku tidak mengetahui perihal kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan ataupun dugaan keterlibatan jenderal lain. Sebelumnya, anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Hendardi, menuturkan bahwa Iwan ditanya terkait adakah keterlibatan jenderal polisi dalam penyerangan air keras terhadap Novel.

"(TGPF) enggak pernah menanyakan itu, tidak pernah, gimana mau dugaan keterlibatan, saya enggak tau apa-apa," kata pria yang akrab disapa Iwan Bule, Kamis (11/7/2019). 

Selain itu, jenderal berbintang tiga ini juga mengaku tidak pernah memperingatkan Novel perihal penyerangan tersebut. "Enggak ada, enggak ada (pernah memperingatkan)," tutur Iwan.