Kabinet Jokowi Jilid II: 80 Persen Profesional, Parpol Cukup 20 Persen

Safari
Kabinet Jokowi Jilid II: 80 Persen Profesional, Parpol Cukup 20 Persen

Jakarta, HanTer - Pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development Studies (ISDS) M Aminudin mengusulkan, Kabinet Presiden Jokowi 2019-2024 diisi 80 persen menteri dari kalangan professional non-partai. Sisanya, 20 persen diambil dari partai politik pendukung.

“Harus dibatasi bahwa menteri dari partai maksimal hanya 20%. Oleh karena itu carilah menteri yang pro rakyat seperti ekonom Rizal Ramli. Pertahankan juga menteri yang miliki jiwa saptamargais seperti Ryamizard Ryacudu,” kata Aminudin  kepada Harian Terbit, Senin.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan komposisi kabinet baru pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin 'fifty-fifty' (50-50) antara menteri dari partai dan profesional non-partai.

Lebih lanjut Aminudin mengemukakan, saat ini ekonomi Indonesia makin terpuruk. Karena di kompartemen ekonomi semakin didominasi oleh orang partai. Apalagi Menkeu Sri Mulyani trennya neolib sehingga ke depan diperkirakan akan makin banyak kasus-kasus seperti Century, kasus participating interest Rio Tinto Freeport, bancakan BUMN untuk sapi perah partai dan operasi politik dan lain sebagainya.

Ekonomi

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyarankan Presiden terpilih Joko Widodo menggaet calon menteri di kabinet lima tahun mendatang adalah orang-orang yang memiliki kapasitas khususnya di bidang ekonomi.

"Pertama, tentu ada prioritas untuk bidang ekonomi mereka yang punya kapasitas," kata Mardani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Dia menilai pertumbuhan ekonomi di lima tahun pemerintahan Jokowi-JK perlu dievaluasi sehingga ke depan perlu meningkatkan serapan tenaga kerja.

Selain itu menurut dia, kemampuan ekspor komoditas dalam negeri dan investasi yang masih rendah sehingga perlu ditingkatkan.

"Kedua, menurut saya serahkan kepada orang-orang yang selama ini sudah ada, kalau ada di luar parpol ya ambil," ujarnya.

Penampakan

Sementara itu, pengamat ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengatakan, pada dasarnya kriteria partai vs non partai yang bakal mengisi kabinet Jokowi - Maruf Amin  hanya penampakan permukaan. Karena pada hakekatnya sebagian besar kabinet Jokowi - Maruf Amin adalah refresentasi oligarki politik nasional dan internasional. 

"Komposisi dalam presentase partai non partai kalau pun harus diberi terminologi 50-50  dari partai dan profesional seperti yang dikatakan JK maka itu kurang memberi signifikasi terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi bangsa sekarang," ujar Salamuddin Daeng kepada Harian Terbit, Selasa (2/7/2019).

Alasannya, sambung Daeng, karena menteri itu sendiri tidak bisa di persenkan, karena posisi Menteri Keuangan, Perdagangan, Pertanian, Pendidikan, Kesehatan, misalnya tidak bisa dibandingkan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga atau dibandingkan dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan. Karena ada menteri yang sangat strategis ada yang kurang. Walaupun keberadaam menteri sama sama penting.

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, pernyataan JK terkait komposisi menteri 50-50 dari partai dan profesional sangat bagus jika memang diseimbangkan antara menteri dari kalangan partai dan profesional. Karena bagaimana pun juga peran partai semasa Pilpres tidak bisa dikesampingkan. Karena partai juga tidak hanya keluar tenaga dan waktu, melainkan juga dana yang juga besar.

"Alokasi 50 persen kursi menteri untuk partai ini ya sebagai bentuk apresiasi atas dukungan semasa Pilpres," jelasnya.

Sementara itu, ada limitasi juga apabila profesional yang lebih besar porsinya. Pertama, kalangan profesional ini tidak berjuang memenangkan Jokowi-Maruf diawal. Dikhawatirkan Jokowi nanti bak kacang lupa kulit. Kedua, kalangan profesional kadang harus meraba-raba dulu. Sebab mereka nanti tidak hanya mengurusi urusan teknis tapi juga urusan politis.  "Maka dari itu,akan baik bila memang seimbang antara menteri dari partai dan profesional. Saling melengkapi," paparnya.