WP KPK Minta Presiden Tagih Komitmen Kapolri Terkait Pengungkapan Kasus Novel Baswedan

Safari
WP KPK Minta Presiden Tagih Komitmen Kapolri Terkait Pengungkapan Kasus Novel Baswedan

Jakarta, HanTer - Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP KPK) kembali meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) serius memerintahkan Kapolri mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, dan pelemparan bom molotov di kediaman Ketua KPK Agus Rahardjo dan Laode M Syarif.

Ketua WP KPK, Yudi Purnomo menuntut agar pengusutan teror tersebut bisa segera terwujud, demi keamanan para pegawai KPK. 

Terlebih pada Jumat (21/6/2019) merupakan ulang tahun Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke 58 tahun yang pernah menaruh perhatian untuk memberantas korupsi.

"Pentingnya perlindungan kepada KPK dengan cara mengungkap pelaku teror-teror terhadap pimpinan dan pegawai KPK yang terjadi selama ini," ujar Yudi dalam keteranagan tertulisnya yang diterima Harian Terbit,  Jumat (21/6/2019).

Selain itu, WP KPK juga berharap agar presiden teguh dalam mendukung kerja-kerja pemberantasan korupsi, sehingga tercipta kondisi Indonesia yang bersih dari praktik korupsi. Diharapkan tidak ada lagi uang rakyat yang diambil koruptor dan rakyat menjadi lebih sejahtera.

Tidak Ada Titik Terang

Usai menjalani pemeriksaan terkait penyerangannya bersama dengan penyidik Polda Metro Jaya dan tim gabungan pencari fakta Polri di Gedung KPK, Novel Baswedan mengaku tidak tahu harus berbicara apa lagi terkait kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Karena hingga 800 hari pasca-penyerangan, belum ada titik terang dari tim gabungan pencari fakta.

"Saya sebenarnya engga tahu mesti bicara apa. Kenapa? sudah 800 hari, (saya) sudah upaya untuk menyampaikan, mendesak dan segala macem disampiakan, permintaan tim gabungan pencari fakta yang independen juga sudah saya sampikan tapikan tidak di akomodir," kata Novel di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (20/6/2019).

Dalam pemeriksaan ini, kata Novel, dirinya menyayangkan, tidak ada perkembangan yang signifikan terhadap penyelesaian kasusnya tersebur. 

"Hal-hal yang ditanyakan tidak menunjukkan ada progres yang baru, bahkan hampir semua keterangan yang saya sampaikan sama dengan pemeriksaan sebelumnya," tutur Novel.

Menurut Novel, dia hanya ingin melihat keseriusan dari tim gabungan pencari fakta untuk bekerja secara maksimal dalam mengungkap pelaku penyiraman.

"Saya hanya ingin melihat apakah kesungguhan itu bisa terjadi yaitu dengan adanya pengungkapan pelaku lapangannya, sisanya saya enggak ngerti mesti bicara apa lagi," tambahnya.

Adapun dalam pemeriksaan ini Novel diperiksa sebagai saksi. Saat pemeriksan Novel juga dampingi sejumlah kuasa hukumnya. Sebelumnya, Novel juga telah diperiksa saat masih berada di Singapura.
Kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada tanggal 11 April 2017 lalu.

Namun, sejak hari pertama pasca teror terjadi hingga saat ini, belum ada kejelasan siapa pelaku dan motif penyerangan tersebut. Akibat penyiraman air keras tersebut Novel harus menjalani operasi di rumah sakit Singapura. 

Dalam mengusutnya, tim gabungan pun dibentuk Polri yang terdiri dari pelbagai elemen seperti akademisi, LSM, mantan pimpinan KPK, Komnas HAM, dan Kompolnas.