TAJUK: Kecelakaan di Jalan Tol Cipali, Kenapa Terus Terjadi?

***
TAJUK: Kecelakaan di Jalan Tol Cipali, Kenapa Terus Terjadi?

Kecelakaan beruntun di Tol Cipali KM 150.900 B, Senin (12/6/2019) dinihari yang menewaskan 12 orang dan puluhan lainnya luka-luka tragis dan menyentakkan publik. 

Terkait kecelakaan ini Kepolisian Resor (Polres) Majalengka, Jawa Barat menetapkan Amsor (29) sebagai pelaku penyerang sopir Bus Safari yang menyebabkan kecelakaan terjadi sebagai tersangka dan dikenakan pasal berlapis.

Kapolres Majalengka AKBP Mariyono di Majalengka, Selasa, mengemukakan, tersangka dikenakan pasal 338 dan 359 KUHPidana dengan ancaman 12 tahun ditambah 5 tahun kurungan penjara.

Penetapan tersangka terhadap Amsor, lanjut Mariyono, karena yang bersangkutan telah mengakibatkan ‎hilangnya nyawa orang lain. Dan karena kelalaiannya juga mengakibatkan banyaknya orang meninggal dunia.

Seperti diberitakan sebelumnya Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudy Sufahriadi menuturkan kecelakaan yang terjadi di Tol Cipali KM 150.900 B yang mengakibatkan 12 orang meninggal dunia disebabkan adanya penyerangan terhadap sopir bus.

Akibat serangan dari Amsor kata Rudy, kendaraan bus menyeberang ke arah berlawanan yaitu dari jalur A atau arah Cirebon ke jalur B arah Jakarta. Dan mengakibatkan kecelakaan beruntun yang menyebabkan 12 orang meninggal dunai serta puluham lainnya luka-luka.

Kecelakaan ini bukan yang pertama kali terjadi di jalan tol tersebut. Sejak resmi dioperasikan jalan tersebut selalu memakan korban. Data Polda Jawa Barat menunjukkan, hingga akhir 2015 atau 6 bulan setelah dioperasikan, telah terjadi 88 insiden di sepanjang jalur Tol Cipali, tercatat 33 orang tewas, 17 orang luka berat, dan 92 orang luka ringan. Sebagian besar penyebab kecelakaan adalah faktor kelengahan pengemudi. 

Kapolda Jabar mengatakan, setidaknya 53 kasus kecelakaan di Tol Cipali (tahun 2015) diakibatkan kondisi sopir yang mengantuk.

Pengamat transportasi, Andy W. Sinaga, dikutip dari Beritagar.id (5 Januari 2017), tingginya angka kecelakaan di Tol Cipali disebabkan oleh tiga faktor, yaitu kultur berkendara, faktor teknis kendaraan, dan faktor infrastruktur jalan. 
Data Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Barat menyatakan sejak Juni hingga pertengahan Desember 2015 sudah 40 orang tewas akibat kecelakaan di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). 

Ternyata selama tahun 2019 ini, terdapat kejadian kecelakaan yang merengut korban jiwa di Jalan tol Cipali yang membentang  sepanjang 116 kilometer itu.

Sebelumnya terjadi kecelakaan beruntun  di KM 138 tol Cipali, antara mobil jenis Honda CRV berpelat nomor B 114 BIL melintas dari arah Palimanan menuju Cikopo tiba-tiba menabrak Mitsubishi Pajero berpelat nomor D 1537 PN. Dalam kecelakaan ini 4 orang meninggal dunia, 4 orang mengalami luka berat, dan 5 orang luka ringan.

Kemudian kecelakaan maut melibatkan mobil Elf dan truk Fuso terjadi di Km 78.30, Purwakarta, Minggu (3/3/2019) malam. Empat penumpangnya meninggal dunia. Lalu, kecelakaan ini melibatkan Mobilio dengan nomor polisi D 1317 ADI dengan sebuah truk Z 9673 NA. Dua meninggal dunia.

Jumlah kecelakaan di Tol Cipali terus bertambah. Tidak sedikit pengguna jalan yang meregang nyawa, belum lagi yang menderita luka-luka, berat atau ringan. Tindakan antisipatif dari pihak-pihak terkait –selain tentu saja persiapan kondisi kendaraan dan kehati-hatian pengemudi– harus segera dilakukan jika tidak ingin darah kembali membasahi aspal Cipali.

Seringnya kecelakaan akibat sopir mengantuk semakin menunjukkan
Perusahaan pemilik bus tidak mempunyai sistem manajemen keselamatan yang baik, atau tidak pernah memantau unsur-unsur penting kendaraan seperti sistem rem dan pengemudinya.   

Perawatan berkala baik harian maupun bulanan mungkin saja tidak dilaksanakan perusahaan bus. Padahal perawatan berkala sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi bus. Dengan demikian, kecelakaan yang disebabkan rem blong tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Selain pihak perusahaan melakukan pengawasan dan perawatan dengan baik, pengemudi juga dituntut memiliki keterampilan untuk mendeteksi mal fungsi sistem rem dan melaporkan kepada bagian perawatan. Pemerintah harus melakukan audit kinerja operator bus dilaksanakan secara terus menerus.

Ke depannya, sistem pengaturan dan pengawasan terhadap bidang transportasi angkutan darat, seperti  bus harus dilakukan secara ketat. Pasalnya, faktor teknis kendaraan cukup mendominasi pada setiap kecelakaan bus selain faktor sopir bus mengantuk.

Kita  meminta pemerintah bijak dan adil setiap menangani kecelakan pada bus, karena setiap kecelakan bus tidak selalu karena kesalahan pengemudi. Namun adanya faktor teknis kendaraan yang sangat mempengaruhi suatu kecelakaan.

Kecelakaan maut yang terjadi berulang-ulang di tol Cipali harus menjadi momentum bagi perusahaan angkutan umum untuk berbenah diri. Juga harus menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk industri angkutan umum darat di Indonesia. Intinya pembenahan angkutan umum  harus dilakukan segera, jangan menunggu adanya korban jiwa terlebih dahulu.