Korban Jiwa Berjatuhan, Usut Tuntas Kerusuhan 22 Mei

Danial
Korban Jiwa Berjatuhan, Usut Tuntas Kerusuhan 22 Mei
Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno

Jakarta, HanTer - Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Adi Prayitno mengatakan perlunya mengusut tuntas kasus rusuh 22 Mei yang telah menelan korban jiwa.

"Pertama, saya kira penting membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas insiden kerusuhan 22 Mei lalu itu. Apapun nama timnya, mau TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) atau apapun, yang penting intinya bisa mengungkap secara tuntas kerusuhan itu," ujar Adi kepada Harian Terbit di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Kedua, menurut Adi, keinginan mengungkap kasus kerusuhan 22 Mei harus dilepaskan dari kepentingan politik. Tim tersebut harus murni untuk dan atas dasar kemanusiaan, karena kemanusiaan di atas segala-galanya, maka harus didukung oleh semua kalangan.

"Ketiga, jika kasus 22 Mei dibiarkan begitu saja tak ada titik terang terutama soal kronologi, motif kerusuhan, jumlah korban, dan seterusnya maka akan banyak kasus-kasus kemanusiaan lainnya yang akan diabaikan ke depan. Kasus 22 Mei begitu telanjang terjadi diliput banyak media, apalagi kasus-kasus lain yang mengendap di permukaan," papar Adi.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Fadli Zon mendorong pemerintah untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut tuntas insiden kerusuhan 22 Mei di Jakarta yang lalu.

Fadli menegaskan, bahwa saat ini pemerintah sangat tertutup dalam melakukan penyelidikan, dan membuat kabur beberapa bagian kejadian saat itu. Sehingga masyarakat dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam fenomena tersebut.

Ini disampaikannya langsung usai memimpin Rapat Paripurna DPR RI beragendakan tanggapan Pemerintah terhadap pandangan Fraksi-Fraksi atas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN TA 2020 di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Selain itu, lanjut Fadli, usulan pembentukan TGPF juga sebenarnya berdasar dari permintaan Anggota Dewan yang lain.

“Sebetulnya saya pikir ini adalah suatu usulan yang baik, karena kita ingin semuanya ada kejelasan, bagaimana latar belakang dan siapa pelaku, dan siapa yang menjadi korban. Kerugian-kerugian seperti apa itu sangat baik, tetapi tergantung dari mekanisme yang ada di DPR sendiri, sangat tergantung daripada pengusul. Kalau tidak salah pernah juga diusulkan oleh beberapa anggota,” bebernya.

Ditambahkan lagi, bahwa usulan pembentukan TGPF ini juga harus terdiri dari civil society (masyarakat sipil) dan stakeholder terkait. Sehingga, dapat terbentuk satu independensi dan akhirnya dapat mengungkap realita peristiwa yang terjadi pada aksi kerusuhan tersebut yang menimbulkan banyak korban.

“Saya kira harus lebih holistik tidak menjadi satu versi, tentu kalau versi pemerintah sangat bias. Harusnya dibentuk suatu Tim Gabungan Pencari Fakta terdiri dari semua unsur, kemudian menyelidiki. Menurut saya harus ada penelitian mendalam, bukan satu versi saja, kalau satu versi pasti akan ada conflict of interest. Siapa yang dirugikan, framing-framing terhadap pelaku, apalagi pemerintah juga merupakan bagian dari aktor politik yang sedang berlangsung,” ulasnya.