Ini Cara Cerdas Kapolres Taput Dinginkan Suhu Politik Pemilu 

***
Ini Cara Cerdas Kapolres Taput Dinginkan Suhu Politik Pemilu 
Kapolres Taput/ ist

Taput, HanTer - Beragam cara dilakukan korps Bhayangkara untuk kelancaran pengamanan Pemilu Serentak 2019 dan Pilkada. Demikian pula yang dilakukan Kapolres Tapanuli Utara (Taput), AKBP Horas Marasi Silaen.

Horas mengatakan, sebagai prajurit Bhayangkara, dirinya siap mengemban tanggung jawab itu. Ia berkomitmen memelihara keamanan dan ketertiban pelaksanaan pemilu supaya berlangsung aman dan lancar, serta melaksanakan penegakan hukum jika terjadi tindak pidana pemilu.

Menurut Horas, Polri sebagai garda terdepan keamananan dan ketertiban memiliki tiga fungsi yaitu preemtif, preventif dan represif bila terjadi pelanggaran terhadap UU Pemilu dan tindak pidana umum lainnya. Tiga fungsi itu merupakan amanat UU No 2 Tahun 2002 tentang Fungsi Polri Pada Pemilu Serentak.

“Preemtif seperti melakukan kegiatan warung bercerita, door to door system, binluh, pembagian sembako, kegiatan ibadah bersama dengan masyarakat di tempat-tempat ibadah. Preventif seperti patroli dialogis ke lokasi yang dianggap rawan,” ujar Horas melalui keterangan tertulisnya, Kamis (13/6/2019).

Seperti diketahui, saat Pilkada Taput 2018, suhu politik sempat memanas, karena salah satu pihak tidak menerima kekalahan. Bahkan kantor KPUD Taput dikepung dan dirusak massa salah satu pendukung calon bupati. 

Pilkada Taput diikuti oleh tiga paslon, yaitu petahana Nikson Nababan dan Sarlandy Hutabarat, Chrismanto Lumbantobing dan Hotma P. Hutasoit serta Jonius Taripar Hutabarat dan Frenky Simanjuntak.

Sejak awal tahapan Pilkada, kata Horas, Polres Taput telah mematangkan strategi dengan membentuk Satgas Operasi Mantap Praja yang bertugas untuk melakukan pengamanan, deteksi dini dan peringatan dini. Kemudian Satgas Nusantara untuk mendinginkan situasi politik terhadap kampanye hitam dan kampanye negatif, serta Satgas Anti Money Politik guna menekan beredarnya politik uang.

Menjelang tahapan pemungutan suara situasi politik semakin memanas dengan semakin banyaknya beredar kampanye hitam dan kampanye negatif di grup Facebook.

"Polres Taput tetap melakukan pendekatan dialog terhadap masing-masing paslon serta pendukungnya untuk tetap menjaga kondusifnya situasi kamtibmas," ucap Horas.

Sesaat setelah selesai pemungutan suara, terjadi pergerakan massa karena beredarnya isu ditemukannya kotak suara kosong di Kantor PPK Kecamatan Siborong-borong.

Mendengar situasi itu, Horas memerintahkan untuk segera dilakukan penyelidikan terhadap isu tersebut. Namun isu tersebut cepat menyebar yang menyebabkan Kantor KPUD Taput dikepung massa.

Kemudian massa bergerak ke kantor Panwaslu dan menilai Panwaslu tidak profesional sebagai pengawas Pilkada Taput.

Sehingga massa melakukan aksi anarkis dengan merusak kantor Panwaslu dan mengakibatkan jatuhnya korban luka dari anggota Polri akibat lemparan batu serta lumpuhnya arus lalu lintas Tarutung-Siborongborong.

Karena peristiwa anarkis itu, Horas selaku Kapolres Taput dianggap terlalu lemah dan lambat dalam menangani aksi massa yang terjadi di KPUD dan Panwaslu  Taput.

“Analogi dalam penanganan bisul, saya lebih memilih penanganan dengan soft power dimana bisul dibiarkan sampai matang hingga pecah dengan sendirinya, sehingga tumpahan cairan bisul tersebut tidak melebar. Saya menolak penanganan dengan hard power dimana bisul dipaksa untuk pecah sehingga tumpahan cairan bisul tersebut tersebar dengan tidak terprediksi," papar Horas.

Dengan tidak adanya korban jiwa dari massa aksi pada saat peristiwa tersebut, Horas menilai suatu keberhasilan dibuktikan dengan banyaknya dukungan elemen masyarakat kepada Polri khususnya Polres Taput.