Ketua DPR Sambangi Posko Keamanan Kompleks Parlemen

Anugrah
Ketua DPR Sambangi Posko Keamanan Kompleks Parlemen
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo melakukan pengecekan langsung ke Posko Keamanan di Kompleks Parlemen. Foto: DPR

Jakarta, HanTer -- Ketua DPR RI Bambang Soesatyo melakukan pengecekan langsung ke Posko Keamanan di Kompleks Parlemen untuk memastikan penanganan unjuk rasa berlangsung tertib, aman dan damai. Ia hadir didampingi Anggota Komisi XI DPR RI Muhamad Misbakhun dan Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar serta pihak keamanan Asops Mabes Polri Irjen Pol Martuani Sormin dan Brigjend TNI A.riad dari Mabes TNI.

Politisi Partai Golkar yang karib disapa Bamsoet ini memberikan pesan khusus kepada aparat yang sedang bertugas untuk tetap taat terhadap aturan dalam mengemban tugas menjaga unjuk rasa agar tidak mengarah kepada hal-hal yang berujung anarkis. Ia juga berharap agar unjuk rasa tersebut dapat berlangsung tertib mengingat hal tersebut dilangsungkan di bulan suci.

“Saya mengingatkan aparat bahwa kita tidak sedang berperang melawan rakyat sendiri. Kita sedang berusaha menertibkan kebebasan dalam penggunaan hak menyatakan pendapat yang menyimpang dan manabrak UU dengan cara humanis namun tegas,” ujar Bamsoet usai meninjau pengamanan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Politisi dapil Jawa Tengah VII tersebut juga ingin memastikan bahwa tidak ada aparat yang membawa peluru tajam dan tetap sesuai pada instruksi yang diberikan oleh Panglima TNI dan Kapolri. Bamsoet menyatakan bahwa aparat hanya boleh menggunakan tiga jenis amunisi dalam rangka mengamankan unjuk rasa yang familiar disebut Aksi 22 Mei tersebut.

“Sesuai penjelasan pihak keamanan, mereka hanya dibekali tiga jenis amunisi yang penggunaannya sesuai tingkatan yang sudah diatur dalam SOP (Standard Operating Procedure). Yakni peluru hampa, peluru karet dan gas air mata. Mereka dilarang keras membawa peluru tajam,” ujar Ketua Badan Bela Negara FKPPI tersebut.

Lebih jauh Bamsoet mengimbau kepada seluruh aparat keamanan yang bertugas dilapangan agar bisa menahan diri dan tidak terprovokasi oleh pengunjuk rasa. Sebab ia menilai memancing emosi aparat hingga melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusi (HAM) memang target dari para penumpang gelap yang menyusup di tengah-tengah aksi massa.

“Memancing aparat marah dan bertindak anarkis sehingga menimbulkan chaos itulah target dari penumpang gelap. Aparat walau dalam kondisi lelah, harus tetap humanis namun tegas dalam menegakkan peraturan dan perundang-undangan terkait penanganan ketertiban umum, dan keamanan negara,” pungkas Bamsoet.