Hari Lahir Pancasila, Paraindra: Momentum Memaknai Falsafah Bangsa Indonesia

Danial
Hari Lahir Pancasila, Paraindra: Momentum Memaknai Falsafah Bangsa Indonesia
Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra), Rajasa Brotodiningrat

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra), Rajasa Brotodiningrat, mengatakan perayaan 'Hari Lahir Pancasila' sebagai momentum memaknai lahirnya falsafah bangsa Indonesia. 

Dijelaskannya, upaya memaknai lahirnya falsafah bangsa menjadi penting mengingat mulai pudarnya pemahaman kebangsaan pada diri masing-masing individu warga negara. 

"Semua sepakat budaya pancasila (harus) menjadi interaksi sosial di masyarakat. Sepuluh tahun lalu kita masih mengenal gotong royong. Bahkan 15-20 tahun lalu, anak-anak lewat di depan orang tua mengucapkan permisi. Sekarang tidak ada," ujar Rajasa Brotodiningrat, dalam jumpa pers di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019).

Dia menegaskan, pemerintah mempunyai tanggungjawab terbesar untuk terus mengenalkan Pancasila, sejak warga negara berusia dini. Namun, kata dia, pada saat ini, tidak ada yang menjamah dan memberikan pembekalan Pancasila. 

Dia menilai, sejumlah politisi tidak mencerminkan tingkah laku etik dalam berpolitik. Belakangan, malah mulai secara masif muncul informasi tidak benar atau hoaks hingga penyebaran ujaran kebencian.

Oleh karena itu, dia mengajak, semua elemen bangsa untuk membangun negara ini sesuai falsafah Pancasila. 

"Saya mengimbau ayo bangun, bergandengan tangan membangun budaya Indonesia. Bukan Indonesia yang hancur," ujarnya.

Rajasa menambahkan, Paraindra juga akan terus bergeliat di daerah-daerah. "Di beberapa daerah, kita akan mengangkat, pada bulan September 2019. Untuk bidang advokasi baru ada di DPP Paraindra di Jakarta. Kita upaya bergandeng tangan dengan masyarakat dan untuk menjadi partai, nanti kita lihat kedepan, dan melihat apa yang menjadi keinginan masyarakat dan cabang-cabang di daerah. Dalam demokrasi ada kesamaan hak," paparnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Parindra, Agustin Pulungan, menagungkapkan pemahaman mengenai Pancasila harus dikuatkan, dan meminta para politisi memberikan contoh kepada masyarakat untuk menguatkan pemahaman Pancasila.

"Bagaimana menguatkan? Contoh pemimpin yang mengejewantahkan sikap pancasila. Pemimpin mencontohkan. Apabila ada tokoh menjadi panutan menyimpang dari Pancasila, sistem sosial dan politik intervensi. Negara akan di pandang dunia, karena dia kaya, karena dia maju. Oleh pak Jokowi akan dibangun, revolusi budaya, revolusi mental. Di negara ini pergantian pemerintahan bisa terjadi silih berganti, paling lama 10 tahun," ulasnya.

Selain itu, lanjutnya lagi "Tidak boleh bangsa Indonesia terpecah belah. People power bukan cara yang pancasilais, kita musyawarah," pungkas Agustin.