Ratusan Advokat Sikapi Perkembangan Kondisi Keamanan Nasional

danial
Ratusan Advokat Sikapi Perkembangan Kondisi Keamanan Nasional

Jakarta, HanTer - Sejumlah advokat yang tergabung dalam Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) menyatakan sikap terhadap perkembangan situasi dan kondisi keamanan, ketertiban sosial, politik dan hukum di Indonesia.

Ditemui di Ruang Rupatama Mabes Polri, Rabu (29/5/2019). Salah Satu Pendiri FAPP yang juga Ketua Umum Peradi, Juniver Girsang  menyebutkan, melihat kerusuhan aksi 21 Mei lalu sebagai advokat yang mencintai bangsa ini mendukung Polri.

"Jadi kehadiran sebanyak 250 advokat tergabung dalam Forum Advokat Pengawal Pancasila di sini, kami menginginkan adanya kedamaian. Kita juga ingin membuat ketegasan dan advokat mendukung tindakan kepolisian dan TNI. Supaya kepolisian tidak ragu dalam mengambil keputusan," tandas Juniver.

Dia tambahkan, kami melihat apa yang terjadi di tanggal 21, 22 dan 23 ada tindakan anarkis. Polisi jangan ragu dan jangan melihat siapapun. Kami melihat jika ada orang yang menjadi korban, meneliti siapa yang melakukannya.

"Kami mengharapkan ada tindakan tegas dan nyata sesuai hukum yang berlaku diberikan terhadap semua pihak yang terlibat hingga ke seluruh aktor intelektual dan penyandang dana tindak pidana penyebaran kebencian, hoax, fitnah, teror/ancaman, makar dan kerusuhan," tegasnya.

FAPP menyampaikan bahwa proses pemilu sudah selesai dan meminta agar seluruh masyarakat terutama elit politik dan tokoh masyarakat untuk menjaga persatuan. Sebaiknya masyarakat fokus pada upaya-upaya nyata untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat ke masa depan.

"Kami juga menyatakan dengan tegas menolak semua tindakan. Perilaku serta gerakan politik yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merusak demokrasi melalui cara-cara melawan hukum. Dengan tujuan mendiskreditkan proses pemilu dan mendelegitimasi Lembaga Penyelenggara Pemilu," ujarnya

Wakapolri, Komjen Pol Ari Dono menyebutkan, semua sudah siap menyambut ini. Kemana-mana bersama (TNI-red)  berusaha menciptakan soliditas lebih solid.

"Bau-baunya ingin kita pecah dan ramai itu sudah ada. Dari mulai Bhabinkamtibmas, Kapolres, Kapolda. Kita terus monitor," ujar mantan Kabareskrim Mabes Polri itu.

Pada tahun ini hampir 100 teroris yang mempunyai agenda. Selain itu, kita dengan TNI, Panglima TNI terus melakukan rapat. "Jangan sampai masuk angin. Prediksi 21, unjuk rasa tidak boleh mengganggu ketertiban umum. Kita terima di Bawaslu dengan baik-baik. Karena nuansa puasa nanti diskresi, kita berikan waktu buka puasa dan salat magrib. Kemudian nawar lagi Taraweh sama-sama. Kami berikan," katanya.

"Yang demo pulang, gak lama datang serangan dan itu perusuh. Melempar batu kena kepala dan memang kena kepala. Molotov pecah di helm terbakar mati juga polisi," sambung Wakapolri.

Nah, belum sampai Petamburan, ada peristiwa di Asrama Brimob, yang berjaga Kompi Markas. Yang jaga membangunkan anak-anak dan Ibu-Ibu Bhayangkari.

"Datang Brimob, massa bisa dibubarkan. Pagi hari ada yang meninggal, kita mulai menyelidiki dari jenazah. Konsep operasi kita tidak ada yang pakai senjata api. Kita ada informasi ada operasi senjata api makanya kita tidak pakai senjata api," ungkapnya.

Ada proyektil, kita uji lab. Lanjutnya, ini proyektil senjata yang mana dan ini yang kita proses. Hari berikutnya, unjuk rasa, pecahnya pelaku ada di dalam unjuk rasa.

Kalau sampai hari ini ada penangkapan dan pemeriksaan tersangka.

"Maka pro dan kontra itu pasti ada. Nah, dengan suport yang ada ini, kita memang mengharapkan kedamaian ini," ujarnya.

Disela-sela acara, dilakukan deklarasi damai di ruang Rupatama, Mabes Polri, Rabu (29/5/2019). Turut hadir pengacara senior, Denny Kailimang, Nelson Darwis, Sri Ondrastuti, Petrus Salestinus.