Beri Pantun, Gonas Tolak People Power dan Kedaulatan Rakyat

Safari
Beri Pantun, Gonas Tolak People Power dan Kedaulatan Rakyat

Jakarta, HanTer - Ratusan massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional (Gonas) menggelar aksi unjuk rasa di Gedung Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU), Menteng Jakarta Pusat, Senin (20/5/2019). Aksi Gonas terlihat berbeda dan unik, yakni dilakukan dengan pembacaan pantun sebagai sindiran atas penolakan gerakan people power yang kini berganti nama kedaulatan rakyat.

Koordinator Gonas, Rayhan menegaskan, tepat di momentum hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei kali ini, bahwa aksi yang dilakukannya sebagai bentuk menolak apapun yang berkaitan dengan people power. Alasannya, tindakan tersebut  memanfaatkan rakyat untuk kepentingan politik Amien Rais Cs.

"People power yang disampaikan Amien Rais cs yang berubah wujud menjadi Kedaulatan Rakyat ini patut dipertanyakan. Tetapi rakyat yang mana yang Amien Rais maksud ? Kami sebagai mahasiswa sekaligus rakyat, tidak sepakat dengan people power ataupun kedaulatan rakyat karena diduga kuat mengarah ke makar terlebih menolak hasil Pemilu," tegas Rayhan.

"Ada syahwat merebut kekuasaan, ini aspirasi rakyat yang mana ? Yang calonnya kalah," tuturnya lagi. 

Lebih lanjut Rayhan mengatakan, pihaknya menyayangkan, adanya elit politik yang terus menghembuskan people power. Karena gerakan yang dinisiasi oleh Amien Rais Cs itu, sangat rawan, bisa menyebabkan benturan antar warga serta perpecahan akibat situasi politik. 

"Elit politik dan BPN Prabowo Sandi harusnya bertanggung jawab menjaga dan melindungi masyarakat dari berbagai gerakan yang mengancam keutuhan negara. Tetapi ini malah provokasi. Stop people power dan kedaulatan rakyat, karena akan membawa kerusakan dan mengancam keutuhan NKRI," jelasnya lagi.

"Kami tahu mereka akan melakukan aksi menginap berhari-hari membuat kemacetan. Dan memaksakan agar tuntutan mereka dipenuhi, ini namanya konyol. Sudah mengganggu kamtibmas dan kenyamanan masyarakat lainnya," tambahnya.

Selain itu, tambah Rayhan, pihaknya  juga merasa prihatin, sebab ajakan pengerahan people power terus digencarkan sebelum pengumuman secara resmi hasil rekapitulasi Pemilu 2019 oleh KPU RI. Padahal, semestinya bila ditemukan indikasi kecurangan, maka harus  menggunakan jalur konstitusional bukan menggerakkan rakyat untuk makar. 

"Jika ada kecurangan ya laporkan jangan koar-koar dan provokasi dan mainkan amarah rakyat. Ini bulan puasa, sebaiknya perbanyak ibadah dan pahala, jaga ketenangan jangan meresahkan rakyat. Hormati keputusan KPU, apapun hasilnya nanti. Jika nanti kurang berkenan, maka salurkan lewat MK," pungkasnya.

Untuk diketahui, massa aksi terlihat membawa sejumlah poster bertuliskan berbagai pantun di antaranya bertulisan :  Buah salak dimakan uler, ayo tolak people powef," Cari sinyal fi atas tower
Pilpres gagal muncul people power, Ke palembang bonceng sekuter...gak menang nebeng people power

Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya fitnah, dari yang kalah berkali kali. 
Dua Tiga Makan Sagu Empat Lima Makan Wajik. Kalau Ada Orang Teriak People Power. Belum Tentu Mereka Lebih Baik. 

Beli Tupperware Sama Berlian Daripada Ikut People Power Mending Cari Uang Buat Lebaran. Kalau Mandi Pakai Shower. Habis itu Bantu di Dapur. Daripada ikut People Power Mendingan Tidur. Barisan Perang Pakek Baju Baja. 
Perang nya sama Negara Rusia 
People Power Bubarin Aja 
Daripada Bikin Resah di Indonesia.