Pelaku Sudah Diamankan Polisi

Cabuli 20 Anak, RGS Layak Dihukum 20 Tahun Penjara

Safari
Cabuli 20 Anak, RGS Layak Dihukum 20 Tahun Penjara
Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait

Jakarta, HanTer - Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait meminta Polres Garut menjerat RGS, pelaku pencabulan 20 anak dibawah umur untuk dihukum 20 tahun. Hukuman 20 kurungan penjara sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI  Nomor 17 Tahun 2016 mengenai penerapan Perpu No 01 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Kejahatan seksual terhadap anak merupakan tindak pidana luar biasa (extraordinari crime) dengan demikian pelaku juga dapat dikenakan dengan ancaman hukuman pidana seumur hidup," tegas Arist Merdeka, Kamis (16/5/2019).

 Pria berjenggot putih ini menegaskan, tidak ada kata damai terhadap segala bentuk kejahatan dan perlakuan salah terhadap anak-anak. Oleh sebab itu, pihaknya memberikan apresiasi terhadap kerja keras Polres Garut dalam mengungkap kasus kejahatan seksual tersebut secara cepat. Sehingga tidak meresahkan masyarakat. 

"Kita apresiasi atas kerja polisi yang berhasil menangkap RGS," paparnya.

Lewat Facebook

RGS warga Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut melakukan aksinya berawal dari perkenalan pelaku dengan korban dengan menggunakan media sosial Facebook.  Setelah itu pelaku menemui korbannya. Aksi pelaku itu sudah berlangsung sejak setahun lalu dengan sejumlah korban awal laporan sebanyak orang 16 orang kemudian korbannya bertambah menjadi 20 orang.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, hasil pemeriksaan sementara pelaku dalam melancarkan kejahatannya dengan cara menawarkan kepada korban untuk menceritakan segala keluhan kehidupan korban.  Pelaku menunjukkan seolah-olah mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan masalah dari segala derita yang dialami korban. 

Kemudian RGS terus melakukan bujuk rayu hingga korban percaya dan mau menemui pelaku. Solusi yang ditawarkan pelaku dengan cara melakukan ritual. Ada dua ritual yang dilakukan pelaku yakni ritual "kias" dan ritual "pangasal" namun dua ritual itu ujungnya  menyetubuhi korban dan  cara pelaku ritual itu dilakukan untuk menghilangkan sial.

Korban-korban pelaku umumnya anak-anak berusia15 sampai 17 tahun.Pelaku lanjut Kapolres Budi Satria melakukan kejahatannya dengan modus mengaku sebagai guru ngaji hingga dukun yang mampu mengobati masalah keluhan kehidupan korban.

Perbuatan bejat pelaku yang sehari-harinya bekerja serabutan itu akhirnya terungkap setelah satu korban melaporkan kepada polisi.

Pendampingan

Untuk mengawal dan memberikan bantuan pendampingan psikologis  bagi 20 korban, Komnas Perlindungan Anak dan Komnas Anak  Pokja Jawa Barat menggandeng P2TP2A Garut akan segera membentuk tim trauma dan dampingan hukum bagi korban. 

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari mengatakan telah melakukan upaya untuk menangani masalah korban yang saat ini statusnya masih di bawah umur.

Ia menyampaikan, seluruh korban akan diberi pendampingan hukum dan menjalani terapi untuk memulihkan kondisi kejiwaannya yang saat ini mengalami trauma.

"Nanti kita akan melakukan trauma healing untuk korban dan orang tuanya, kami akan datang langsung ke Cisewu untuk bertemu korbannya," kata Diah. 
Gawat Darurat

Terpisah, Presidium Jaringan AKSI Inklusi dan Inspiratif Untuk Remaja Perempuan, Evie Permata Sari mengatakan, selalu berulangnya kasus kekerasan seksual menunjukkan Indonesia sudah berada dalam kondisi kegawat-daruratan kekerasan seksual.  Perempuan dan anak tidak aman dari pelecehan seksual dan perkosaan bahkan oleh orang terdekat seperti yang terjadi di Garut.

"Para korban itu tidak mudah untuk melapor karena situasi dan kondisi. Karena sudah menjadi rahasia umum, takut untuk melaporkan karena mungkin takut dianggap tidak cukup bukti apalagi jika pelakunya adalah publik figure," jelasnya.

Karena situasi yang sudah kegawat-daruratan kekerasan seksual, sambung Evie, maka betapa pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual untuk segera menjadi Undang-undang untuk perlindungan dan keadilan korban. 

Direktur Yayasan Kemanusiaan International untuk Kenya dari Indonesia,Yupita Jevanska Atuna mengatakan, rendahnya pendidikan sensualitas bagi remaja dan ibu yang membuat kekerasan seksual selalu berulang. 

“Karena saat membicarakan seksualitas dengan orang tua masih merupakan hal yang tabu. Akibatnya, remaja tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengidentifikasi suatu perilaku ya g dia alami sebagai tanda awal akan adanya pelecehan seksual,” paparnya.