Kematian Ratusan Anggota KPPS, Fahri Hamzah Terima Dokter dan Advokat

Danial
Kematian Ratusan Anggota KPPS, Fahri Hamzah Terima Dokter dan Advokat
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menerima perwakilan sejumlah dokter. Pertemuan membahas soal ratusan petugas KPPS Pemilu 2019 yang meninggal dunia.

Jakarta, HanTer - Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menerima sejumlah advokat dan dokter yang meminta agar dibentuk tim untuk menyelidiki meninggalnya 540 petugas pemilu. Kematian massal petugas pemilu dinilai sebagai kejadian luar biasa dalam istilah kedokteran.

Salah seorang dokter yang menemui Fahri, dr. Ani Hasibuan mengaku telah meminta alamat penyelenggara pemilu yang meninggal pada panwaslu. Lalu, ia mendatangi dua keluarga dan satu rumah sakit.

"Saya kira perlu concern saja ini ada orang-orang dari 68 an yang sakit ada 11 meninggal. Kita perlu tahu ya kenapa sih meninggalnya," ujar Ani usai pertemuan dengan Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Senin (6/5/2019).

Ani merasa aneh bila petugas pemilu berusia 27 tahun dan 43 tahun meninggal karena faktor kelelahan. Ia pun membandingkan dengan dokter yang dinilai memiliki jam kerja tinggi serta istirahat minim.

"Semua pasti meninggal. Tapi, umur 43 tahun, 27 tahun kalau alasannya kelelahan saya sebagai dokter, 'ah masak?' Dokter tuh makhluk paling capek lho. 3x24 jam biasa bekerja tanpa tidur dan alhamdulilah sehat-sehat saja. Saya kira perlu dilakukan pemeriksaan," paparnya.

Dijelaskan, dalam istilah kedokteran Ani menyebut peristiwa ini sebagai kejadian luar biasa. Sebab, orang sakit dalam jumlah seketika waktu hampir yang bersamaan, dan meninggal. Menurutnya harus diinvestigasi misalnya apakah karena kuman jenis baru yang bisa menimbulkan penyakit begitu cepat.

"Kita enggak memeriksa secara medis ya. Kita hanya mendatangi keluarga dan dari keluarga dibawa ke rumah sakit. Ada yang dalam keadaan muntah-muntah lalu dinyatakan meninggal," ungkap Ani.

Selain itu, ia sudah mendapat penjelasan dari pihak keluarga.
"Jadi dari keluarga kita mendapat penjelasan. Jadi tak ada jelas disebut COD, COD apa sih cause of death yang jelas, tak ada. Secara medis kami tak menemukan," katanya.

Contoh lain, lanjut Ani, ada petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia awalnya mengeluh. Lalu masuk kamar mandi. Yang bersangkutan keluar dari kamar mandi, tiduran, dan meninggal.

Terkait dugaan keracunan, ia mengaku tak berani sebabnya karena hal itu. Sebab, memang rekrutmen anggota KPPS hanya berdasarkan surat keterangan sehat dari Puskesmas dan tak ada pengecekan laboratorium darah dan fungsi kimia darah.

"Agak berbeda dengan panwaslu yang melalukannya lebih detil. Perlu kita audit kan, apakah ada anggaran kesehatan dalam Rp25 triliun itu untuk pemeriksaan kesehatan," beber Ani.

Pemilu 2019 menyisakan duka karena sejauh ini, jumlah petugas pemilu yang meninggal dunia mencapai 554 orang. Jumlah korban terbanyak dari petugas KPPS dengan 440 orang.

Sementara diketahui, korban meninggal yang lain berasal dari petugas Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang berjumlah 92 orang. Sedangkan, dari usur Polri sebanyak 22 anggota polisi.