PN Jakarta Pusat Mediasi Sengketa WNI dengan Bank Asing

Safari
PN Jakarta Pusat Mediasi Sengketa WNI dengan Bank Asing

Jakarta, HanTer  - Kasus gugatan Priscillia Georgia, WNI terhadap bank asing J Trust memasuki tahap mediasi. Bagian legal bank J Trust, Lutfi, usai persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat mengatakan, pihaknya akan mengikuti proses yang diperintahkan majelis hakim.

“Untuk saat ini kita ikuti sesuai acara ini. Saat ini masih dalam tahap penunjukan tahap mediator, dan ini juga belum mediasi karena hakim nya juga ada agenda sidang,” kata Lutfi di Pengadilan Jakarta Pusat, Jl. Bungur Besar, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).

Sementara itu, Slamet, kuasa hukum nasabah J Trust mengatakan, agenda mediasi  telah ditentukan pada Senin (13/5) pekan depan.

“Jadi hari ini, tadi pihak tergugat semua berkas lengkap sesuai, perraturan MA, maka harus ada upaya mediasi, dengan majelis menunjuk mediator. Maka mediasi pertama akan dilaksanakan Senin depan, jam 9,” ujarnya.

Slamet menambahkan, pihaknya nantinya akan melihat apakah ada itikad baik  dari J Trust untuk menyelesaikan permasalahan dengan kliennya.

“Nanti kita lihat, tuntutan kita jelas kita minta ada kerugian materil dan immateril. Kita juga membuka status untuk mediasi itu. Kira-kita kita ajukan proposal. Kita mau selesai dengan syarat tertentu di mediasi. Kita sudah beri tahu proposal, apa tanggapan J Tust. Kira-kira begitu,” tandasnya.

Gugatan ini berawal saat Priscillia Georgia merasa diperlakukan semena-mena oleh J Trust Invesment Indonesia. Alih-alih restrukturisasi, J Trus Invesment justru menyita rumahnya. Priscillia juga mengaku teritimidasi dengan adanya penyitaan oleh J Trust.

Priscillia mengatakan, sebagai perusahaan asing yang bergerak di usaha perbankan, seharusnya J Trust tidak semena-mena terhadap nasabah WNI. Tidak sedikit nasabah menderita hal yang sama. Bedanya nilai yang Priscillia perjuangkan Rp 1,8 miliar, sementara yang lain ada yang menyentuh Rp 28-500 miliar.

Priscillia juga telah melayangkan upaya banding atas putusan Pengadilan Negeri Cibinong Kelas 1A Nomor 169/Pdt.Bth/2018/PN.Cbi. Sengketa berawal dari mekanisme pelimpahan kredit KPR dari PT Bank J Trust kepada J Trust Investment Indonesia. 

Priscilla menyebutkan bahwa dirinya melaksanakan akad pada 2011 dengan Bank Mutiara dan tidak pernah melibatkan J Trust Investment Indonesia. Akad pun disebut Priscilla dengan skema cicilan Rp 21 juta per bulan.

Dia mengaku tidak mendapatkan pemberitahuan mengenai pelimpahan kredit dari Bank Mutiara kepada J Trust Investment Indonesia atas piutangnya. Masalah bermula saat pihak J Trust Investment Indonesia menagih Priscilla secara cash and carry piutang yang belum dibayarkan.

Jumlah piutang Priscilla yang bermula Rp 1,8 miliar menjadi Rp 3,7 miliar dan tuntutan untuk membayar secara cash and carry membuatnya melayangkan gugatan ke PN Cibinong. Priscilla menjelaskan bahwa sebelumnya ia sudah mencicil utangnya total sebesar Rp 300 juta.

Sebelum melayangkan gugatan guna mempertahankan rumahnya, Priscilla mengaku telah melakukan beberapa itikad baik untuk melunasi utangnya, namun tidak disetujui oleh pihak J Trust. 

Pihak J Trust tetap berpegang bahwa Priscilla harus membayar cash and carry. Hingga akhirnya pihak J Trust menyebutkan jika Priscillia ingin mengambil kembali rumah tersebut harus membayar Rp 3,7 miliar secara tunai.