Amien Rais Harus Sebut Siapa ‘Siluman’ Kodok dan Cebong Kuasai KPU

Safari
Amien Rais Harus Sebut Siapa ‘Siluman’ Kodok dan Cebong Kuasai KPU

Jakarta, HanTer - Pengamat sosial politik dari Lembaga Kajian dan Analisa Sosial (LeKAS) Karnali Faisal mengatakan, pernyataan anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais soal dugaan adanya atasan 'siluman' kodok dan cebong kuasai KPU menjadi warning bagi KPU untuk membuktikan netralitasnya dalam Pemilu 2019. 

Tudingan yang dilontarkan Amien Rais tersebut seolah menjadi pembenaran dari isu yang selama ini berkembang mengenai keberpihakan KPU pada salah satu paslon.

"Meski demikian, KPU tidak perlu reaktif menanggapi tudingan tersebut. KPU harus tetap fokus pada tugasnya sebagai penyelenggara pemilu hingga melahirkan keputusan pemenang Pemilu 2019 pada 22 Mei mendatang," ujar Karnali. 

Sedangkan bagi Amien Rais yang merupakan dari bagian BPN, sambung Karnali, semestinya tidak hanya melempar tudingan 'siluman' kodok dan cebong kuasai KPU. Lebih penting dari itu, Amien Rais harus memastikan akuratnya Form C1 yang akan menjadi bukti penghitungan suara hasil Pemilu 2019. Sehingga yang pertanyaaan yang disampaikannya tidak menjadi kontroversi.

"Pernyataan Amien Rais belum bisa disimpulkan kebenarannya kecuali yang bersangkutan melaporkan kepada penegak hukum tentang sosok yang dimaksud dalam tudingannya," paparnya.

Jika tanpa menyebut orang atau sosok yang disebut sebagai 'siluman' tersebut, ujar Karnali, maka sulit bagi publik untuk menilai pernyataan tersebut. Publik lebih menghargai pernyataan Mustafa Nahrawerdaya yang sama-sama dari BPN saat merilis data yang dianggap sebagai bukti kecurangan KPU.

Sementara itu Komisioner KPU Wahyu Setiawan belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi Harian Terbit. 

Tanpa Bukti

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo menilai, selama ini pernyataan Amien Rais, terlalu banyak berpraduga tanpa bukti. Sebagai seorang negarawan harusnya Amien Rais tidak mengeluarkan pernyataan yang menjadi kontravesi dan polemik di masyarakat. Apalagi usia Amien Rais sudah sepuh.

"Amien Rais harusnya memberi contoh berpolitik secara santun dan elegan. Jangan malah cenderung bertingkah antagonis," ujar Karel Susetyo kepada Harian Terbit, Minggu (5/5/2019).

Karel pun menduga belakangan ini pernyataan Amien Rais yang kerap kontroversial karena ada frustasi akut secara politik. Mungkin juga Amien Rais merasa mempunyai banyak saham saat awal reformasi, tapi secara pencapaian politik tidak mampu mendapatkan kekuasaan secara maksimal. Apalagi partai yang ia dirikan (Partai Amanat Nasional - PAN) hanya segitu-gitu saja. 

Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais menuduh KPU  sebagai makhluk politik ciptaan calon presiden petahana, Jokowi. Amien juga mengklaim sudah mendapatkan informasi dari ahli IT, bahwa sistem KPU sekarang sudah dikendalikan oleh 'siluman. 'Siluman' tersebut katanya, sudah membuat KPU kesulitan untuk mengendalikan data penghitungan Pemilu 2019.

"Ada siluman yang lebih tinggi dari kodok dan kecebong yang ingin menguasai semuanya," katanya di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Sabtu (4/5/2019).

Tapi, Amien sayangnya tidak mau menjelaskan dari ahli IT mana ia mendapat informasi tersebut. Ia juga tak mau menyebut secara rinci siapa 'siluman' lebih tinggi dari kodok dan cebong yang dimaksudnya tersebut.

Ia hanya mengatakan keberadaan 'siluman' tersebut semakin membuat kecurangan Pemilu 2019 kelihatan nyata. 'Siluman' tersebut membuat penghitungan suara Pemilu penuh kecurangan.

#KPU   #pilpres   #jokowi   #prabowo