Menumpuk di Gudang Bulog, KPK Harus Bongkar Sindikat Impor Beras

Safari
Menumpuk di Gudang Bulog, KPK Harus Bongkar Sindikat Impor Beras

Jakarta, HanTer - Beras impor di gudang  Perum Bulog menumpuk. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan, dari 1,8 juta ton beras impor, hanya 150 ribu ton beras impor yang tersalurkan.

Menurutnya, masyarakat Indonesia umumnya kurang menyukai beras impor. Pasalnya rasa beras impor dinilai berbeda. 

Menanggapi menumpuknya beras impor tersebut, Ketua Presidium Perhimpunan Masyatakat Madani (Prima) Sya'roni mengatakan, hal ini membuktikan, selama ini impor beras dilakukan secara ugal-ugalan. Impor beras jutaan ton diduga hanya untuk mencari rente. Karena disaat ekonomi sedang sulit cara termudah mencari uang adalah dengan impor.

"KPK harus segera bergerak membongkar sindikat impor. Siapa pun yang terlibat harus digulung (ditangkap)," ujar Sya'roni kepada Harian Terbit, Minggu (5/5/2019)

Sya'roni menuturkan, ditangkapnya Bowo Sidik Pangarso, politikus Partai Golkar yang terjaring operasi tangan tangan (OTT) KPK yang kemudian menyeret nama Mendag Enggartiasto Lukita bisa dijadikan pintu masuk bagi KPK untuk menangkap pihak - pihak yang terlibat dalam impor beras. 

KPK juga perlu mengusut dugaan rente impor yang mengalir ke dana kampanye Pemilu 2019 yang sudah tentu merupakan kejahatan politik.  "Jika ada kandidat yang terbukti menggunakan rente impor untuk kampanye, maka harus didiskualifikasi," tegasnya. 

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan,  pada 2018 lalu, Perum Bulog ditugaskan pemerintah untuk mengimpor beras hingga 1,8 juta ton. Buwas mengaku  menentang kebijakan itu. Alasannya, impor beras terlalu banyak. Hampir setahun berlalu, kini sebagian besar beras yang diimpor Bulog itu masih menumpuk di gudang. Buwas menyebut, perkiraannya tepat.

"Dulu kan saya waktu pertama kali menjabat, beras enggak akan impor saya tahan yang dulu, saya tolak impor kan, nah ramai kan. Terus orang pada enggak percaya, ini Pak Buwas ngarang-ngarang seolah-olah kan kita asbun, asal bunyi. Prediksi saya betul, buktinya hari ini kan kecil persentasenya beras impor yang terpakai, iya kan?" kata Buwas saat ditemui di Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (3/5/2019).

Ia mengungkapkan, hanya 150 ribu ton beras impor yang tersalurkan. Beras impor umumnya kurang disukai masyarakat Indonesia karena rasanya beda.   

"Dari 1,8 (juta ton) hanya tidak sampai 150 ribu yang dipakai. Itu pun kita distribusikan ke tempat-tempat tertentu. Beras impor kan pera, itu hanya untuk Kalimantan dan Sumatera, Padang. Kita hanya bisa ke situ, di luar itu tidak mau dan kita upayakan mix agar taste-nya bisa diterima masyarakat Indonesia," ucapnya.

#Beras   #bulog   #korupsi   #pangan   #kpk