Menag: Hilal Terlihat Sedikitnya 9 Perukyat

ant
 Menag: Hilal Terlihat Sedikitnya 9 Perukyat

Jakarta, HanTer - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bulan baru atau hilal terlihat sedikitnya oleh sembilan perukyat di sejumlah titik pengamatan di Indonesia.

 

"Ada sembilan petugas yang menyaksikan dan memberi testimoni bahwa hilal terlihat," ujar Lukman dalam jumpa pers Sidang Isbat di Kementerian Agama di Jakarta, Minggu (5/5/2019) malam.

Dia mengatakan info hilal terlihat dikonfirmasi sejumlah petugas yang ditempatkan di 102 titik di 34 provinsi. Testimoni sembilan perukyat itu merupakan angka awal yang bisa bertambah seiring proses pengamatan di seluruh Indonesia yang memiliki perbedaan konversi waktu.

Dengan adanya kesaksian melihat hilal, kata dia, maka pada Minggu(5/5) malam ditetapkan sudah masuk 1 Ramadhan 1440 Hijriyah dan bisa mulai dilaksanakan shalat Tarawih, pada besok hari Senin (6/5) dimulai puasa wajib Ramadhan.

Sidang isbat dihadiri sejumlah unsur seperti dari duta besar negara sahabat, Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Selain itu, hadir juga delegasi Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, pakar falak dari ormas-ormas Islam, pejabat Kementerian Agama dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.


Tertutup Awan

Sementara hasil pengamatan hilal untuk penentuan awal Ramadhan di Padang yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang bersama Kementerian Agama Sumatera Barat menyimpulkan bahwa hilal tak terlihat karena tertutup awan.

"Berdasarkan hasil hisab posisi hilal sudah di atas lima derajat, namun cuaca di Padang hujan sehingga tak bisa dilihat karena terhalang awan ," kata Kepala Stasiun Geofisika Klas I Padang Panjang Irwan Slamet di Padang, Minggu (2019).

Ia menyampaikan itu usai melakukan rukyatul hilal di di Tempat Evakuasi Sementara Nurul Haq Jondul IV Parupuk Tabing.

Irwan menjelaskan berdasarkan hasil hisab yang dilakukan oleh BMKG, waktu konjungsi ijtimak terjadi pada Minggu (5/5/2019), pukul 05.45 WIB tepat pada posisi 44,180 derajat Celsius.

Waktu terbenam Matahari pada Minggu (5/5/2019) terjadi paling awal di Merauke, Papua yakni pukul 17.29 WIT dan paling akhir terjadi di Sabang Aceh pada pukul 18.46 WIB.

Ia menjelaskan dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum waktu Matahari terbenam, Minggu (5/5). Maka bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuan awal Ramadhan 1440 Hijirah otomatis pelaksanaan rukyatul hilal dilaksanakan setelah Matahari terbenam pada Minggu (5/5).

Untuk ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam berkisar 4,52 derajat Celsius di Jayapura sampai dengan 5,75 derajat Celsius di Tua Pejat, Kepulauan Mentawai, Sumbar.

Di Sumatera Barat, Matahari terbenam paling awal pada pukul 18.13 WIB di daerah Sungai Dareh dan Padang Aro, sedangkan terakhir pukul 18.21 WIB di Simpang Ampek.

Ketinggian hilal saat Matahari terbenam antara 5° 39,94’ yaitu di daerah Sungai Dareh sampai dengan 5° 45,36’ di daerah Tua Pejat.

Dia mengatakan jika cuaca tidak hujan hilal akan terlihat selama 23 menit di Padang, akan tetapi karena cuaca hujan sehingga terhalang awan.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Sumbar Asasriwarni mengatakan berdasarkan hisab disepakati hilal itu ada ketika ketinggian minimal dua derajat Celsius.

"Artinya kalau sudah lima derajat dapat dinyatakan Ramadhan telah masuk dan puasa dilaksanakan esok hari," katanya.

Kepala Kantor Kemenag Sumbar Hendri menyampaikan hasil pengamatan langsung dilaporkan kepada sidang isbat yang digelar Kementerian Agama di Jakarta.

"Untuk penentuan kapan 1 Ramadhan 1440 Hijriah kita tetap menunggu hasil sidang," ujarnya.

Sidang isbat diikuti pakar dan akademisi yang menguasai metode hisab dan rukyat, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan ormas Islam.

Ia mengimbau masyarakat melaksanakan puasa Ramadhan berdasarkan keputusan yang ditetapkan pemerintah pada malam ini.