RR: 2020 Masih Dihantui Utang Semakin Besar

Safari
RR: 2020 Masih Dihantui Utang Semakin Besar
Ekonom senior, Rizal Ramli

Jakarta, HanTer— Ekonom senior, Rizal Ramli (RR) mengemukakan, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah Jokowi sebesar 5,3-5,6% untuk tahun 2020 sangat mengecewakan. Karena, angka itu nyaris sama dengan kinerjanya selama 4,5 tahun terakhir yang stagnan di angka 5%.

“Rencana ekonomi 2020 yang mediocre tersebut, juga akan masih dihantui dengan utang yang semakin besar dengan yield utang dengan yield (sekitar 8%) salah satu yang tertinggi di kawasan. Saat ini utang pemerintah pusat sudah Rp 4.567 triliun (Februari 2019). Cicilan bunga utang Rp 70,6 triliun (Akhir Maret 2019),” kata  Rizal Ramli, dalam keterangan pers, belum lama ini.

Menurut mantan Menko Perekonomian ini, rencana Ekonomi 2020 yang mengecewakan itu  juga akan meneruskan “Trio-Deficits”, yaitu defisit Neraca Perdagangan sebesar -U$193 juta (Q1-2019), defisit transaksi berjalan -U$9,1 miliar, dan defisit APBN yang di Q1-2019 sudah tembus Rp 102 triliun.

“Tidak ada strategi dan blue print yang jelas untuk mengurangi Trio-Deficits tersebut, mungkin karena sudah terkesima dengan gembar-gembor “dongeng keberhasilan ekonomi”," tutur mantan Anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu.

Dongeng Palsu

Kalau terlalu sering "mendongeng", ujar mantan Menteri Keuangan ini,  akhirnya tertipu sendiri dengan dongeng palsu itu. Korban kampanye ‘post truth’. Tapi korban yang sesungguhnya adalah rakyat yang hidupnya semakin susah, dengan daya beli yang terus merosot.

"Lho kalau gitu ngapaian mau jadi Presiden lagi? Kok tega-teganya sekedar menghabiskan waktu tanpa perbaikan kinerja ekonomi, dan tanpa perbaikan nasib rakyat Indonesia? Sekedar melanjutkan kinerja ekonomi yang mediocre dan ‘business as usual’ itu-pun pas-pasan," kata Rizal.

Oleh karena itu, Rizal Ramli menegaskan, harus ada perubahan, agar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, daya beli rakyat meningkat, lebih banyak lapangan kerja, dan upah meningkat. Untuk itu, tidak bisa sekedar melanjutkan ekonomi yang mediocre ini, yang dalam ‘dongeng’ tapi sulit dalam kenyataan. Tidak bisa sekedar hanya meneruskan “business as usual”.

5,6 Persen

Sebelumnya, Presiden Jokowi menggelar sidang kabinet paripurna di Istana Bogor pada Selasa (23/4/2019) lalu. Agenda utamanya adalah pembahasan anggaran dan fokus kerja pada 2020.

Menkeu Sri Mulyani usai rapat mengatakan ada beberapa target yang akan ditetapkan untuk tahun 2020, terutama dalam hal makro ekonomi. Salah satu soal target pertumbuhan ekonomi.

Mulyani mengatakan, target pertumbuhan ekonomi yang akan disasar adalah kisaran 5,3-5,6 persen. "Untuk awal ini kita berasumsi pertumbuhan ekonomi akan berkisar 5,3-5,6 persen, namun Presiden berharap kita bisa pacu sampai 5,6 persen," kata Sri Mulyani.