TAJUK: Mencegah Anak Jadi Korban dan Pelaku Kekerasan

***
TAJUK: Mencegah Anak Jadi Korban dan Pelaku Kekerasan
Ilustrasi (ist)

Tak hanya menjadi korban tindak kekerasan, kalangan anak saat ini sudah menjadi pelaku kekerasan. Miris dan memprihatinkan memang, anak-anak ingusan sudah bertindak brutal, mengeroyok temannya, menganiaya, bahkan sampai membunuh dan melakukan tindak kriminal lainnya.

Persoalan ini tentu tidak bisa dibiarkan, perlu langkah konkret untuk mencegah generasi harapan bangsa itu melakukan tindakan kejahatan. Persoalan ini harus diselesaikan secara bersama oleh semua elemen masyarakat.

Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Indra Gunawan, mengatakan, hal ini sangat memprihatinkan karena pelaku kekerasan tidak lagi oleh orang dewasa terhadap anak. Tapi anak sudah menjadi pelaku kekerasan.

Indra mengatakan hal itu dalam acara Temu Partisipasi Lembaga Masyarakat bertajuk "Sinergi Partisipasi Masyarakat untuk Meningkatkan Perlindungan dan Pemenuhan Hak Perempuan dan Anak di Indonesia" yang digelar di kawasan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Terkait kasus kekerasan terhadap anak, menurut dia, beragam, seperti paedofilia, dilacurkan, pornografi, kekerasan dalam rumah tangga, sodomi, dibunuh, dan terlantar.

Menurut dia, perlunya partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak memasuki industri 4.0 melalui Forum Partsipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan korban dan pelaku perundungan siswi SMP, merupakan korban dari situasi yang tidak tepat. Anak menjadi pelaku kekerasan dinilai karena ada masalah dalam pengasuhan.

Kasus penganiayaan pelajar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan korban anak di bawah umur, AU, menyentak kita semua. Kejadian tersebut memantik kemarahan di mana-mana. Sebagian mengutuk perilaku sejumlah siswi SMA yang mengeroyok korban hingga menderita luka sehingga harus dirawat intensif di rumah sakit. 

Kasus penganiayaan ini sangat memprihatinkan, dan sebuah bukti semakin seringnya kekerasan yang dilakukan oleh anak. 

Menurut Psikolog Patricia Elfira Vinny, ada beberapa langkah yang bisa diambil orang tua agar anak tak ikut melakukan tindak kekerasan. Elfira mengatakan, orang tua diharapkan bisa memberikan perhatian ke anak-anak, terutama pada anak usia remaja yang masih labil dalam pengelolaan emosi. 

Mereka juga sangat membutuhkan support yang besar dari lingkungan, khususnya dari orang tua, agar tindak perilaku mereka lebih terarah dan adaptif. Jika anak melakukan tindak kekerasan segera menanyakan apa penyebab anak dapat melakukan hal tersebut.

Elfira juga mengatakan agar orang tua jangan menyalahkan, apalagi sampai menghakimi anak. Jika anak tak berani mengungkapkan, dapat dilakukan observasi untuk mencari penyebab. Misalnya mengecek gadget anak, atau bertanya pada lingkungan teman anak.

Untuk mencegah anak menjadi pelaku kekerasan yang perlu dilakukan antara lain, orang tua harus mendengarkan secara efektif dan bijaksana aoa yang dikeluhkan anak-anaknya. 
  
Dilansir American Psychological Asosiation, penelitian menunjukkan bahwa kekerasan sering kali dipelajari sejak dini. Artinya, orang tua dan anggota keluarga memiliki peran penting untuk mendidik anak agar belajar mengatasi emosi tanpa kekerasan. Selain itu orangtua harus memberikan kasih sayang dan perhatian yang konsisten kepada anak-anaknya.

Tentu saja orang tua harus selalu mengawasi aktivitas anak. Orang tua juga perlu menemani anak bermain dan melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan teman-temannya.  Kemudian orangtua harus mampu menunjukkan pada anak bagaimana mereka berperilaku yang baik. 

Intinya, orang tua sangat berperan penting dalam mengendalikan perilaku anak. Ketika perilaku kekerasan yang dimiliki anak sejak kecil dibiarkan, takutnya ketika dewasa malah menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan. 

Tentu saja mencegah anak menjadi pelaku kekerasan tak hanya menjadi tugas orang tua, juga pemerintah. Untuk itu pemerintah daerah dan pusat harus membangun program perlindungan anak berbasis kampung.

Harapan kita, semua elemen, terlebih orangtua, dituntut lebih berperan dalam mengawasi perkembangan anak-anaknya.

Maka diperlukan pencegahan semua pihak untuk mencegah dan menyelamatkan anak menjadi pelaku kekerasan. Orangtua semestinya sensitif dan mengetahui perkembangan serta aktivitas anak.