Politik Uang Rusak Demokrasi; Said Agil  Imbau NU Coblos Capres dan Caleg Sesuai Hati Nurani

zamzam
 Politik Uang Rusak Demokrasi; Said Agil  Imbau NU Coblos Capres dan Caleg Sesuai Hati Nurani

Jakarta, HanTer - Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama) Said Agil Siroj mengimbau khusus NU supaya mencoblos pasangan Capres dan caleg sesuai hati nurani, bukan karena keterpaksaan apalagi money politic atau politik uang.

"Itu (money politics) tanda-tanda kegagalan berdemokrasi ketika sudah pemilihan dengan motivasi keuntungan sesaat, uang, money politics, dan lainnya. Itu yang tandakan demokrasi gagal. Tapi kalau betul-betul masyarakat sukseskan ini (pemilu-red) tanpa ada motivasi selain ingin membangun demokrasi itu sendiri, maka itu bangsa bermartabat dan berbudaya," ujar Said usai Dialog Kebangsaan bertema "Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI,” di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Selain Said Agil Siroj, pembicara lain adalah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dan Cendikiawan muslim, Komaruddin Hidayat. 

Dalam diskusi terungkap semangat mensuksekan Pemilu serentak pada Rabu (17/4/2019). Mereka mendorong agar pelaksanaan Pemilu 2019 besok dapat berlangsung, aman, tertib dan bersih.

"Kita harus optimis Pemilu besok harus berjalan dengan baik. Apalagi rakyat sudah makin dewasa, tidak lagi mereka bisa dipengaruhi dengan uang dan lain-lain," kata Mu'ti.

Said Aqil mengatakan bahwa Indonesia adalah negara damai yang berideologi Pancasila. Hal itu disebutnya sebagai ideologi yang sudah final.

"Indonesia bukan dari Islam, bukan dari kafir, tapi negara yang damai. Lebih tegas lagi, empat pilar sudah final, negara kebangsaan dengan negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945," kata Said Aqil.

Sedangkan cendekiawan muslim Komarudin Hidayat meminta, agar peserta pemilu dan masyarakat untuk tidak merusak prestasi Indonesia pada pelaksaan Pemilu 2019 besok. 


"Mari kita bangun rumah kita. Jangan mau disusupi kekuatan mana pun terutama yang antidemokrasi, anti-Pancasila, dan anti-Indonesia maju," ujarnya.

Menurutnya, prestasi keberhasilan pelaksanaan pemilu di Indonesia harganya sangat mahal jika ada oknum tertentu yang hendak menguasi bangsa karena kepentingan politik tertentu. Siapapun yang menang, lanjut Komaruddin, adalah putra terbaik bangsa. 

"Kalau prestasi ini dirusak, maka akan mahal sekali secara moral, ekonomi, dan sosial. Jadi, tolonglah apa yang kita raih selama ini jangan dirusak dan siapapun yang menang adalah putra bangsa," tandasnya. 

Menurutnya, menang dan kalah dalam pemilu adalah suatu hal yang biasa. Baginya, siapapun yang terpilih, sejatinya tidak menimbulkan permusuhan.

"Oposisi boleh, tapi oposisi yang konstruktif dan rasional. Jangan kemudian menganggu pemerintahan karena kalau diganggu terus tidak akan bisa terbangun negara ini," ujar Komaruddin