SMI Serukan Pemilu Damai Demi Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik

Safari
SMI Serukan Pemilu Damai Demi Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik
Deklarasi Pemilu Damai Dan Menolak Golput di Kantor Solidaritas Milenial Indonesia (SMI) Jl. Salemba Tengah No.59 B Jakarta Pusat, Selasa(16/4/2019).

Jakarta, HanTer - Ratusan kaum muda milenial yang tergabung dalam Solidaritas Milenial Indonesia (SMI) menyatakan sikap siap menggunakan Hak Pilih di Pemilu 2019 yang digelar Rabu (17/4/2019) besok dengan penuh tanggung jawbab demi masa depan Indonesia yang lebih baik, maju dan sejahtera. 

SMI juga menolak golongan putih (golput) dan menyerukan kepada segenap putra-putri bangsa Indonesia untuk ikut serta mensukseskan pelaksanaan Pemilu 2019. Golput bukanlah pilihan tepat karena hanya merugikan kita sebagai bangsa.

SMI juga siap ikut serta dan mengajak semua rakyat Indonesia menjadikan Pemilu 2019 sebagai Pemilu yang damai, berkualitas, beradab dan demokratis. Untuk itu, SMI mendesak semua pihak agar tidak menebar Hoax, kebencian, permusuhan dan intimidasi di hari pencoblosan.

”Walaupun berbeda pilihan politik, kami siap dan juga mengajak semuanya tetap mengutamakan persaudaraan, kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa. Kami siap mendukung Polisi- TNI, KPU dan Bawaslu yang telah bekerja maksimal untuk Pemilu 2019 agar aman, tertib, lancar, jujur, adil dan demokratis,” tegas Koordinator (SMI), Abdul Wahid saat Deklarasi Pemilu Damai Dan Menolak Golput di Kantor SMI Jl. Salemba Tengah No.59 B Jakarta Pusat, Selasa(16/4/2019).

Wahid mengatakan, momentum pemilu merupakan kesempatan penting bagi rakyat Indonesia untuk memilih dan menentukan pemimpin yang dianggap mampu dan bertanggungjawab dalam mengemban tugas besar dan mulia. Menjadikan bangsa dan negara Indonesia semakin maju dan sejahtera adalah harapan dan kehendak kita bersama sesuai cita-cita para pendiri bangsa ini.

Oleh karena itu, sambung Wahid, apapun alasannya kebersamaan dan kerukunan tidak bisa dipertaruhkan, apalagi dikorbankan. Perbedaan pilihan politik merupakan hal biasa, namun jangan sampai memicu permusuhan atau mengganggu dan merusak nilai-nilai persaudaraan dan persatuan se-bangsa dan se tanah air Indonesia. 

"Kedewasaan berpolitik harus dimulai dari kita sebagai generasi milenial,” tegasnya.