Generasi Millenial Berpolitik Jangan Suka Baper

Danial
Generasi Millenial Berpolitik Jangan Suka Baper
Pakar hukum Noor Fajar Asa SH MH

Jakarta, HanTer - Banyak hal menarik saat pesta demokrasi berlangsung, serasa banyak gerbong-gerbong kehidupan sosial ikut bergerak di dalamnya. Namun ada catatan serius yang perlu diperhatikanbahwa pemilu di Indonesia pada prosesnya mesti memperhatikan nilai-nilai luhur bangsa dengan adat ketimurannya yang menjadi “best practices” dari negara -negara penganut demokrasi di dunia lainnya.

Hal ini disampaikan pakar hukum Noor Fajar Asa SH MH dan mengatakan, pernah ada seorang kawan bercerita, bahwa di group WhatsApp alumni sekolah yang ia masuk di dalamnya, hanya gara gara pilihan untuk Pilpres, group WhatsApp yang tadinya untuk group silaturahmi, berubah menjadi grup pertempuran mirip Iran dan Irak.

"Saling bully terjadi, karena berbeda pilihan di sisi lain menjadi saling baper. Di pemilu 2019 ini banyak orang yang terlihat sangat fanatik dengan calon presiden pilihannya masing-masing. Jadi mereka terkesan sangat cinta terhadap calon presiden pilihannya. Mereka menyatakan ke fanatikannya melalui Sosial  media yang sekarang begitu masiv. Sehingga terkesan tidak lagi “Luber: Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia” ungkap Noor Fajar Asa dari Jaringan Satu Matahari saat di  wawancara di Kantor hukum IBEN di Jl Panglima Polim kav 88 Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019). 

Seperti diketahui, Jaringan Satu Matahari adalah komunitas anak Muda Muhammadiyah millenial di DKI Jakarta yang berkomitmen mendukung H Ir Joko Widodo satu periode lagi memimpin negara ini jelang pencoblosan.

Banyak yang Baper Politik di media sosial, demikian lanjut Noor. “Apa itu baper”, demikian ditulis sejumlah netizen sebagai keyword saat mencari jawaban di “Google”.
Nah, kamus bahasa gaul pun mengartikan jika “baper” adalah singkatan dari bawa perasaan.

Bawa perasaan maksudnya adalah seseorang menyaksikan atau mendengar suatu hal, kemudian perasaannya terbawa akan hal yang disaksikan atau didengar tersebut.
Masyarakat hari ini , apalagi jelang Pilpres , menjadi Masyarakat yang  “BAPERAN” dimana kehadiran media sosial memang mempermudah bagi masyarakat untuk mengakses informasi pemilu. 

Namun di sisi lain, media sosial juga turut mempengaruhi cara pandang pemilih secara negatif. Salah satunya menjadi BAPERAN. Jaringan satu Matahari tak bosan bosannya mengajak generasi muda millenial dalam pentingnya budaya literasi untuk memperkuat pemilih dalam konteks interaksi di media sosial. Menurut Jaringan Satu Matahari, dengan budaya literasi juga bisa meningkatkan 'Pemilu cerdas tanpa Baper'.

Hal tersebut membuat kondisi di media sosial menjadi gaduh serta menimbulkan debat kusir. Menurutnya, kegaduhan politik di dunia maya dapat direduksi apabila para pengguna medsos aktif dapat bersikap dewasa.

Pilpres adalah Pesta Demokrasi , namanya pesta itu gembira dan menggembirakan. Mari generasi millenial janganlah golput. Pilpres  harus dirasakan sebagai pesta poranya demokrasi, sebagai penggunaan hak demokrasi yang bertanggung jawab dan, sama sekali jangan sampai berubah menjadi sesuatu yang menegangkan, secara tersirat kata pesta merujuk kepada satu makna yang berarti sebuah aktivitas yang menggambarkan kegembiraan atas sebuah peristiwa. Mari kita gembira dan menggembirakan pada saat 17 April 2019 nanti," papar Noor.